Kejadian ini aneh, tapi terjadi, ini aneh tapi nyata. Saya awalnya tidak percaya ketika diceritakan oleh seorang teman developer tentang kejadian ini.

Aneh kan? Ada orang yang protes gara-gara dia mendapatkan kelebihan tanah di kavling yang dia beli. Ngga tahu juga alasannya, apakah ada alasan mistis, atau ekonomis atau malah politis.. hehehe.

Kejadian bermula ketika seorang konsumen datang pada saat perumahan dipasarkan tetapi masih dalam bentuk tanah kosong, hanya masih berupa patok-patok kavling dengan benang. Beberapa bowplank memang sudah terpasang dan beberapa tukang sedang bekerja.

Lazimnya sebuah jual beli perumahan yang masih baru dipasarkan, legalitas kavling masih sedang diurus oleh Notaris yang ditunjuk, sehingga jual beli masih berupa Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB).

Dalam PPJB tersebut ditulis detil kavling yang diperjual-belikan dengan konsumen ini. Mulai dari nama perumahan, nomor kavling dan luasnya. Dalam kolom luas kavling ditulis 90 m2. Sampai disini tidak ada masalah, semua happy.

Si konsumen mendapatkan kavling yang akan dibangun rumah untuknya dan si developer mendapatkan cash-in untuk terus menjaga perputaran cash-flow project.

Masalah timbul ketika serah terima rumah, si konsumen merasa bahwa rumahnya terasa lebih lega, terutama lebar kavling rumahnya yang terasa lebih lebar untuk rumah dengan luas tanah 90 m2. Karena untuk luasan tersebut ukurannya adalah 6 x 15 m.

Setelah dilakukannya pengukuran ulang sendiri dia mendapati bahwa lebar tanahnya adalah 6,6m dengan demikian ada kelebihan tanah 9 m2. Kemudian dia mengajukan protes ke developer kenapa tanahnya ada kelebihan?

Tindakannya ini yang tidak habis kita fikir. Dapat tanah lebih malah protes. Halaahh…

Konsumen pada umumnya selalu menginginkan tanah lebih luas apalagi yang dibayar hanyalah sebesar kavling standar yaitu dengan luasan 90 m2.

Seperti yang saya sampaikan di atas bahwa alasan tindakan ini yang tidak dapat kita mengerti apakah politis, mistis atau ekonomis.

Celakanya secara hukum dia benar, dia hanya beli 90 m2 kenapa kenyataannya dapat 99 m2?

Supaya tidak terjadi lagi

Kejadian ini lucu, unik tapi juga membuat developer terganggu. Kesalahan ini terjadi karena kekurangtelitian developer sendiri juga Notarisnya.

Soal ini tidak akan terjadi jika Notaris lebih jeli dengan menuliskan tanda ‘lebih kurang’ pada saat pencantuman luas di PPJB-nya. Jadi luas yang tercantum dalam PPJB itu menjadi ‘± 90 m2’.

Karena tanda ‘lebih kurang’ mengandung pengertian bahwa luas tanah pada kenyataannya bisa lebih bisa kurang.

Dengan demikian berapapun selisih luas antara yang tertulis pada PPJB dan kenyataannya tidak jadi soal. Asalkan perbedaannya masuk akal. Akan menjadi aneh kalau luas kavling ‘± 90 m2’ tapi kenyataanya 135 m2.. hehehehehe.. tetap berhati-hati ya Developer.

Masukkan Nama dan Email Utama Anda untuk Mendapatkan Info Detil dan Jadwal Workshop Developer Properti

Lihat artikel lainnya:
Pembebasan lahan adalah kegiatan membeli tanah kepada penduduk dalam jumlah besar...
Banyak pemilik tanah yang menawarkan tanahnya kepada developer dengan harga yang...
Sebelum ini sudah kita bahas langkah-langkah untuk mengurus legalitas tanah sampai...
Luas tanah efektif (sering juga disebut kavling efektif) adalah prosentase luasan...
Masih sering saya mendapati broker properti yang menjualkan tanah-tanah yang...
Beberapa minggu lalu saya mendisain lahan untuk dibangun townhouse. Lokasinya di...
Dapat Tanah Lebih Malah Menuntut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *