arti-ajb-dan-ppjb

Investasi di bidang properti menjadi pilihan investasi yang lebih menguntungkan dan aman jika dibandingkan dengan jenis investasi lain. Nilai properti konon bahkan selalu naik melebihi laju inflasi dan bunga perbankan.

Berinvestasi di property, terutama tanah, tidak memerlukan effort tambahan untuk meningkatkan nilai jualnya. Hanya biarkan saja dan waktu akan menaikkan harganya.

Contohnya seorang saudara saya membeli tanah seluas lebih kurang 2000 m2 di area Tebet, Jakarta Selatan, seharga 13 Juta rupiah permeter pada awal tahun 2012. Dia tidak melakukan apapun terhadap tanah tersebut selain memagari tanah sekeliling dan mensertifikatkan tanahnya, kaena ia membeli tanah tersebut masih belum sertifikat. Mensertifikatkan tanah hanya memakan waktu empat bulan saja dengan biaya yang tidak signifikan dibandingkan dengan harga tanah tersebut.

Sekarang ini pertengahan 2013, tanah tersebut sudah ditawar orang seharga 24 Juta Rupiah permeter. Bayangkan keuntungan yang diperolehnya jika ia bersedia menjual sekarang. Tapi ia memutuskan untuk tidak menjualnya, masih memakai prinsip emas di dunia property, “buy and wait” alih-alih “wait to buy”.

Memang tidak selamanya kita mendapatkan property dengan tipe seperti yang diperoleh saudara saya di atas, kalaupun kita salah beli maka sifat pemaaf dari property akan memaafkan kita. Karena salah belipun masih memungkinkan untuk meraih keuntungan, sejelek-jeleknya balik modal.

Selama diinvestasikanpun tanah tersebut masih bisa dikaryakan dengan cara disewakan untuk jangka waktu teretentu sebelum dimanfaatkan. Misalnya rencana akan dijual dua tahun lagi maka selama kita menunggu jangka waktu dalam rencana, property tersebut bisa disewakan. Dengan demikian property tersebut bisa menghasilkan arus kas positif, sekurangnya property tersebut sanggup membiayai dirinya sendiri untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Sedangkan berinvestasi pada property dalam bentuk rumah, apartemen atau ruko bisa menghasilkan income yang lebih besar jika dibandingkan dengan investasi dalam bentuk tanah. Rumah bisa disewakan sehingga tidak perlu khawatir terhadap biaya yang dikeluarkan untuk merawatnya.

Dengan rate sewa di Indonesia berkisar antara 3 sampai 10 persen, maka hasil sewanya cukup untuk biaya perawatan dan pajak-pajaknya.

Seorang rekan membeli sebuah apartemen bujet dengan harga 350 Juta Rupiah di kawasan Jakarta Selatan, sekarang ini disewakan dengan harga sewa dua juta lima ratus ribu rupiah perbulan sehingga ia mendapatkan sewa 30 Juta rupiah per-tahun. Dengan penghasilan sewa tersebut, bisa dikatakan hasil sewa cukup bagus karena mendekati 10 persen.

Dan jika dijual apartemennya sudah mencapai harga 500 Juta Rupiah saat ini. Sungguh menggiurkan hasil yang didapatkan teman saya itu dengan memiliki property.

Memang tidak semua apartemen yang menghasilkan nilai sewa seperti perhitungan di atas, diperlukan analisa terhadap suply dan demand dan pangsa pasar di sekitar lokasi jika kita memutuskan berinvestasi di apartemen. Karena apartemen umumnya digunakan sebagai tempat tinggal kedua di tengah kota untuk kemudahan mobilitas ke tempat beraktifitas.

Share Button
Lihat artikel lainnya:
Jika kondisi makro ekonomi normal, kenaikan harga properti biasanya diatas suku...
Pembebasan lahan adalah kegiatan membeli tanah kepada penduduk dalam jumlah besar...
Menjadi investor property memerlukan kejelian dalam memilih property. Kejelian...
Pada artikel kali ini saya akan ceritakan sebuah kisah sukses seorang developer...
Sebelum memulai negosiasi dengan pemilik lahan anda harus menetapkan target yang...
Kredit Pemilikan Rumah Metode Syariah (KPR Syariah) akhir-akhir ini makin marak....

Article Tags:

Property Amat Menguntungkan sebagai Sarana Investasi

Dapatkan Update Terbaru Tentang Properti

Masukkan nama dan email anda di form di bawah ini, kami akan kirimkan update di inbox anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *