muhammad al fatih

Suatu ketika di abad 15 M pasukan muslim di bawah pimpinan panglima perang yang masih muda belia memenangi peperangan yang bersejarah bagi umat Islam di dunia.

Kemenangan atas peperangan melawan musuh tersebut didapat di hari Jumat, sehingga pada saat waktu Sholat Jumat datang pasukan muslim tersebut harus melaksanakan ibadah sholat Jumat.

Dari sisi penguasaan terhadap ilmu agama Islam, kealiman dan dari sisi apapun si Panglima perang amat pantas menjadi Khatib dan Imam sholat Jumat tersebut. Tetapi tetap dia ingin bersikap demokratis dalam menentukan Khatib dan Imam Sholat Jumat.

Dia menentukan 3 kriteria bagi orang yang akan ditunjuk sebagai Khatib dan Imam. Dia mulai bicara di depan bala tentaranya.

“Saudaraku.. kita akan memilih Khatib dan Imam untuk Sholat Jumat ini dengan beberapa kriteria. Kriteria pertama, siapa diantara tentaraku yang sejak baligh tidak pernah meninggalkan sholat 5 waktu?, yang masuk kriteria saya mohon berdiri”

Maka semua tentaranya termasuk dirinya berdiri… subhanallah, seluruh tentaranya tidak pernah meninggalkan Sholat lima waktu.

“Baik.. kriteria ke dua, siapa diantara tentaraku yang sejak baligh tidak pernah meninggalkan sholat sunat Rawatib?”, Sholat sunat Rawatib adalah sholat sunat yang mengiringi sholat wajib, lengkap qobliah dan ba’diahnya.

Serentak dia dan sebagian dari tentaranya berdiri, menandakan bahwa dia dan banyak tentaranya tidak pernah meninggalkan sholat sunat Rawatib. Dengan kondisi ini masih belum bisa memilih satu orang untuk dijadikan Khatib dan Imam sholat Jumat.

“Kriteria ketiga, siapa yang sejak baligh tidak pernah meninggalkan sholat tahajjud?”

Dia berdiri, tetapi tidak ada satupun tentaranya yang berdiri, hanya dia sendiri yang berdiri menandakan bahwa hanya dialah yang tiap hari melaksanakan sholat tahajjud sejak baligh, tidak pernah meninggalkannya. Dengan demikian dialah yang berhak menjadi Khatib dan Imam Sholat Jumat.

muhammad al fatih mehmed

Masya Allah seorang panglima perang yang masih muda, umurnya masih 21 tahun waktu itu sudah demikian matang dalam ibadah dan dalam penguasaan ilmu dan strategi perang. Tidak heran Allah SWT menurunkan bantuan-Nya menaklukkan suatu kota yang menjadi salah satu tonggak sejarah peradaban dunia.

Kota itu adalah Konstantinopel yang saat ini dikenal sebagai Istanbul. Siapa panglima perang itu? Beliau adalah Muhammad Al-Fatih yang sudah menjadi Khalifah di umur yang belum cukup 20 tahun. Sultan Muhammad Al-Fatih juga dikenal dengan nama Sultan Mehmed II.

Ia kemudian merubah nama Konstantinopel menjadi Islambol yang berarti Islam keseluruhan, kemudian nama Islambol diubah oleh Mustafa Kemal At-Taturk pada tahun 1924 M setelah runtuhnya kekhalifahan.

Allah SWT menurunkan bantuan-Nya kepada orang yang pantas menerimanya. Karena bantuan Allah SWT-lah kemenangan diraih karena waktu itu jumlah tentara musuh lebih banyak dan usaha untuk merebut Konstantinopel sudah dilakukan oleh pendahulunya dan selalu gagal.

Muhasabah diri…

Sudahkan kita memantaskan diri kita untuk menerima bantuan dari Allah SWT? Boleh jadi tidak dikabulkannya doa kita yang setiap saat kita panjatkan karena memang kita belum pantas menerima bantuan Allah SWT. Mari pantaskan diri untuk menerima bantuan-Nya. Seperti yang dilakukan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih.

 

Share Button
Lihat artikel lainnya:
Sebenarnya untuk ‘memiliki’ seorang broker properti yang bagus adalah melalui...
Hari itu di Hotel Pullman Jakarta saya ketemu dengan alumni peserta Workshop...
Cerita ini tidak ada hubungannya dengan property. Saya tergelitik untuk memposting...
Kemampuan negosiasi amat penting Anda miliki terutama bagi Anda yang tidak memiliki...
Aneh kan? Ada orang yang berprofesi sebagai pembeli untuk tanah-tanah yang sedang...
Suatu waktu saya main ke toko buku Gramedia, sebuah buku yang judulnya agak serem...
Sang Penakluk Konstantinopel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *