Ada banyak strategi yang bisa dipraktekkan ketika akan mengakuisisi lahan untuk dibangun proyek properti, diantaranya membeli putus, beli dengan pembayaran bertahap, kerjasama lahan dan menggandeng lembaga pembiayaan dalam membeli lahan. 

Beli Putus

Transaksi yang paling mudah dan tidak butuh pembicaraan lebih lanjut adalah jual beli dengan pembayaran secara kontan atau dikenal dengan istilah beli putus.

Beli putus ini amat simpel yaitu tinggal datang ke kantor notaris/PPAT untuk menandatangani akta jual belinya.

Setelah itu segala keuntungan dan keruguan terhadap tanah tersebut sudah tidak ada lagi hubungan dengan pemilik lama.

Jika pengembang menerapkan sistem beli putus untuk pengadaan lahan bagi proyek properti yang akan dibangun, maka harus dilakukan dengan hati-hati karena tanah merupakan komponen berbiaya besar dalam pembangunan sebuah proyek properti.  

Sehingga harus dipastikan bahwa harga tanah yang dibeli betul-betul feasible dan sudah memberikan keuntungan bahkan sebelum di atas tanah tersebut didirikan bangunan.

Sebelum tanah dibeli Anda harus memastikan bahwa tanah tersebut tidak dalam keadaan bersengketa dengan pihak manapun.

Jika tanah dalam bersengketa sebaiknya cari tahan lain karena masih banyak tanah kosong di Indonesia.

Untuk melakukan pengecekan keabsahan tanah dapat dilakukan dengan mengecek di kantor pertanahan masing-masing daerah.

Pengecekan ke kantor pertanahan bisa dilakukan jika tanahnya sudah bersertifikat, jika tanah belum bersertifikat maka pengecekan dilakukan ke kantor kepala desa atau kantor lurah.

Selain pengecekan di kantor pertanahan, Anda juga perlu mengecek lokasi secara fisik dengan menanyakan tentang lokasi kepada warga sekitar lokasi.

Karena pada umumnya warga mengetahui jika ada sengketa di daerah mereka.

Beli Bertahap

Kerjasama antara developer dengan pemilik tanah bisa dalam bentuk pembelian secara bertahap. Pembelian bertahap yang dimaksud bukan membeli bagian perbagian dari luas tanah yang ada, melainkan dari sistem pembayaran.

Terdapat dua jenis sistem pembelian secara bertahap, pertama pembayaran dilakukan berdasarkan waktu dan nilai pembayaran yang telah disepakati bersama, misalnya pada bulan ketiga membayar sekian persen dari harga total, bulan keenam sekian persen dan seterusnya hingga total harga tanah terlunasi.

Jenis yang kedua, pembayaran dilakukan berdasarkan dari progres kegiatan, misalnya untuk pembayaran pertama dilakukan sebagai tanda jadi, pembayaran kedua saat perijinan selesai diurus, pembayaran ketiga saat sertifikat induk sudah jadi, dan seterusnya. 

Pembelian lahan dengan cara ini biasanya lebih mahal dibandingkan dengan cara cash, karena pihak pemilik lahan akan memperlakukan proses jual beli sama halnya dengan proses pembelian barang, dimana membeli barang secara tunai harganya lebih murah dibandingkan dengan cara kredit.

Namun demikian pihak developer tetap diuntungkan karena dengan pembayaran secara bertahap maka dana internal perusahaan tidak dihabiskan seluruhnya untuk pembebasan lahan sehingga tersedia dana yang cukup untuk keperluan pemasaran dan hasil dari penjualan properti bisa digunakan untuk melunasi lahan.

Kerjasama Lahan

Sistem kerjasama antara developer dan pemilik tanah bisa dalam bentuk kerjasama lahan. Dengan sistem ini pemilik lahan memperoleh keuntungan dalam bentuk kepemilikan atas proyek properti yang dibangun pihak pengembang.

Maksudnya dari keuntungan total setiap properti yang dibangun, sekian persennya menjadi hak pemilik tanah, dan pembayarannya dilakukan setiap kali ada unit rumah yang laku, baik melalui pembelian secara cash maupun down payment.  

Sistem kerjasama ini juga memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak, karena bagi pihak developer tidak harus menyediakan uang cash untuk pembebasan lahan, bahkan pembayaran dapat dilakukan setelah properti laku terjual.

Sedang keuntungan bagi pemilik lahan berupa naiknya harga lahan yang dia miliki karena telah diproses menjadi kavling atau bahkan telah didirikan proyek properti.

Kredit Pemilikan Lahan (KPL)

Proses pembebasan lahan melalui sistem KPL dilakukan dengan menggandeng lembaga keuangan /bank guna memperoleh pinjaman yang selanjutnya digunakan untuk mengakuisisi lahan.

Pada umumnya proses KPL ini bersamaan dengan pengajuan Kredit Pembangunan Properti yang juga dikenal dengan Kredit Yasa Griya (KYG), Kredit Konstruksi.

Keterbatasan dari KPL ini adalah hanya bisa digunakan untuk pembangunan rumah yang memperoleh subsidi dari pemerintah atau yang lebih dikenal dengan sebutan rumah murah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Demikian beberapa bentuk kerjasama developer dengan pemilik tanah yang dilakukan sebelum proyek properti dibangun.  

Lihat artikel lainnya:
Pengadaan lahan oleh pengembang untuk membangun sebuah proyek, tidak harus dengan...
Ketidakpunyaan modal merupakan penghalang utama orang untuk menjadi developer...
Sifat lahan atau tanah yang tidak dapat diperbarui membuat harga aset yang satu ini...
Bisnis townhouse amat gurih untuk digeluti karena lokasi townhouse yang selalu di...
Sebelum mengakuisisi lahan untuk dijadikan proyek properti anda harus memastikan...
Berbeda dengan praktek kerjasama lahan dengan pola bagi hasil atau pembayaran...
Begini Strategi Mengakuisisi Lahan untuk Dibangun Proyek Properti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *