Cerita Sukses Seorang Developer Pribadi

lotus residence town house

Pada artikel kali ini saya akan ceritakan sebuah kisah sukses seorang developer pribadi, dia seorang rekan saya, sebut saja namanya H. Rizal.

Dia sudah bertahun-tahun menggeluti pekerjaan sampingan sebagai developer pribadi di daerah Jakarta Selatan.

Dianggap pekerjaan sampingan karena dia memiliki bisnis sendiri yaitu sebagai pemilik toko emas di bilangan Jakarta Selatan.

Enaknya menjadi developer properti ya seperti yang dilakukan oleh H. Rizal ini. Bisnis utama tetap bisa dijalankan, menjadi developer properti juga bisa dilakukan.

Tetapi harus diingat bahwa menjadi developer properti sebagai sampingan hanya bisa dilakukan untuk proyek properti skala kecil. Jika membangun sebuah proyek properti dengan skala yang lebih besar membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih serius, akan beresiko jika menempatkan proyek properti skala besar sebagai bisnis sampingan.

Dua tahun yang lalu H. Rizal membeli sebidang tanah seluas 250 m2 di kawasan Tebet, Jakarta Selatan dengan harga 7 juta permeter persegi.

Dia membeli tanah ini dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan harga pasar pada waktu itu karena tanahnya belum bersertifikat.

Setelah berkonsultasi ke Notaris bahwa dengan alas hak yang dimiliki bisa dimohonkan sertifikatnya dia memutuskan membeli tanah tersebut. (more…)

Bank Sangat Menyukai Agunan Berupa Properti

properti sebagai agunan bank

Pada dasarnya sebuah bank adalah perantara antara orang yang membutuhkan uang dengan orang yang kelebihan uang. Orang yang kelebihan uang menyimpan uangnya di bank sedangkan orang yang membutuhkan uang akan mengajukan pinjaman ke bank.

Bank dianggap sebagai lembaga terpercaya bagi nasabah untuk menyimpan dan mengelola uangnya karena operasional dan kebijakan sebuah bank diatur oleh undang-undang.

Nasabah yang menyimpan uangnya di bank akan mendapatkan keuntungan berupa bunga tabungan. Sedangkan uang nasabah yang disimpan di bank akan dikelola oleh bank dalam bentuk memberikan pinjaman kepada nasabah lainnya atau debitur dengan pengenaan bunga pinjaman.

Bank akan mendapatkan keuntungan karena besarnya bunga pinjaman jauh lebih besar daripada bunga tabungan. Itulah sekelumit tentang hubungan sederhana antara nasabah, debitur dan bank.

Nah dari bahasan di atas kelihatan bahwa bank wajib membayar bunga terhadap uang nasabah yang dititipkan kepadanya dan uang untuk membayar bunga tabungan nasabah diperoleh dari bunga pinjaman debitur. Itulah sistem operasional dari bank. Jadi dari perspektif ini sebenarnya bank sangat berkepetingan memberi pinjaman kepada debitur. (more…)

Sampai Dimana Komitmen Mu?

komitmen kuat untuk sukses

Hari itu di Hotel Pullman Jakarta saya ketemu dengan alumni peserta Workshop Developer Properti saya. Ngobrol ngalor-ngidul kesana kemari dari yang ringan sampai yang serius.

Pertanyaan wajib yang saya ajukan jika ketemu para alumni tentu saja tentang implementasi apa yang sudah didapat di Workshop.

“Gimana rencana proyeknya?”, saya bertanya. “Masih belum bisa membuka proyek pak karena masih banyak urusan di luar properti”, timpalnya.

“Saya akan mencoba, I will try” katanya ketika saya tantang dia untuk membuka proyek dalam jangka waktu 4 bulan ke depan.

Mendengar jawaban ini Saya tahu dia akan gagal memenuhi tantangan saya karena dalam kalimat I will try tidak ada komitmen sama sekali terhadap kesuksesan. Dalam kalimat tersebut ada nada excuse jika gagal. Akan banyak sekali alasan yang dijadikan penyebab jika ia tidak memenuhi komitmen tersebut. “Toh saya sudah mencobanya”, kilasnya jika ia gagal. (more…)

Begini Siklus Bisnis Properti di Indonesia

siklus bisnis properti indonesia

Dalam beberapa tahun belakangan trend perkembangan bisnis properti mengikuti siklus lima tahunan. Mari kita lihat ke belakang di tahun 1998 ketika terjadi kerusuhan di Indonesia khususnya di Jakarta.

Kondisi properti pada tahun 1998

Kerusuhan dipicu oleh beberapa kondisi dan kejadian seperti krisis moneter yang berujung pada krisis ekonomi di Indonesia dan krisis finansial di Asia yang menyebabkan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar merosot drastis.

Pemicu lainnya adalah peristiwa penembakan mahasiswa Universitas Trisakti yang berujung lengsernya Soeharto sebagai presiden Republik Indonesia.

Krisis ekonomi menyebabkan masyarakat kehilangan daya beli termasuk daya beli terhadap properti sehingga pasar properti mengalami stagnasi. (more…)

Kenaikan Nilai Properti Di Atas Suku Bunga Perbankan

 

Jika kondisi makro ekonomi normal, kenaikan harga properti biasanya diatas suku bunga perbankan.

Menurut penelitian kenaikan properti rata-rata adalah 20% pertahun, jauh lebih tinggi dibanding suku bunga bank, baik dalam bentuk suku bunga tabungan atau deposito yang berkisar antara 2 sampai 4 persen per-tahun.

Seorang kawan saya membeli sebidang tanah seluas 180 m2 di daerah Tebet, Jakarta Selatan, kira-kira 7 tahun yang lalu.

Harganya sekitar Dua Juta Lima Ratus Ribu Rupiah per-meter persegi, terhitung lebih murah dari harga pasar waktu itu yang sudah mencapai Tiga Juta Rupiah per-meter persegi.

Kenapa bisa murah? Karena tanah tersebut saat itu belum bersertifikat. Awalnya dia ragu untuk membeli karena takut terbelit masalah, karena pada umumnya pemahaman masyarakat bahwa tanah yang belum bersertifikat rentan terhadap masalah dan gugatan hukum.

Untungnya dia pintar dalam mengurai masalah, ketika dia menerima penawaran dari brokernya hal pertama yang dia lakukan adalah meminta copian surat-surat tanahnya, walaupun belum bersertifikat.

Nah, surat-surat tanah tersebut dia bawa ke kantor Notaris untuk diperiksa sekaligus mendapatkan konsultasi gratis tentang langkah selanjutnya.

Seorang Notaris tentu saja tahu jenis-jenis alas hak tanah dan cara pengamanannya bagi pembeli, lebih jauh lagi seorang Notaris wajib tahu persyaratan yang harus disediakan jika tanah tersebut ingin ditransaksikan.

Saya katakan konsultasi gratis karena pada umumnya seorang Notaris tidak memungut biaya pada tahap awal jika ada klien yang akan bertransaksi. (more…)

Page 1 of 6312345...102030...Last »