Mau Nego Tanah? Pasang Target Dulu, Jangan Grasa-grusu

cara-negosiasi-dengan-pemilik-lahan

Sebelum memulai negosiasi dengan pemilik lahan anda harus menetapkan target yang harus anda capai. Misalnya anda akan menegosiasikan tanah seluas 5 hektare untuk dibangun perumahan subsidi. Target yang ingin anda capai adalah harga tanah kesepakatan harus di bawah 100.000,- rupiah permeter persegi dan dengan pembayaran uang muka 10 persen saja. Si pemilik juga akan diberikan bagian dari keuntungan proyek 20 persen. Sedangkan sisa pembayaran tanahnya dilakukan dengan cara dicicil 12 kali per-enam bulan.

Nah, jika pemilik lahan sudah meminta anda masuk ke materi negosiasi seperti di atas, anda harus memulai dengan penawaran yang lebih ringan terlebih dahulu. Misalnya, harga tanah dibuka di angka 50.000,- rupiah permeter persegi. Uang muka ditawarkan 5 persen saja dan bagian laba proyek yang menjadi bagian pemilik lahan 10 persen dan cicilan 12 kali sudah cukup bagus.

Kenapa anda harus mengajukan penawaran lebih rendah terlebih dahulu dibandingkan dengan target? Supaya tersedia cukup ruang untuk negosiasi dan menghindari terjadinya kondisi deadlock. Tentu saja tidak semua materi negosiasi harus diajukan lebih rendah terlebih dahulu. Lihat-lihat situasilah ya.

Strategi ini mirip-miriplah dengan proses tawar-menawar ketika anda  membeli sepotong celana di pasar tradisional. Tidak seperti super market atau department store yang membandrol barang dagangannya, pasar tradisional masih menerapkan tawar-menawara dalam jual-beli. Misalnya celana tersebut ditawarkan dengan harga 250.000,- rupiah ketika anda menanyakan harganya.

“Celana ini bagus mas, model terbaru, bahannya lembut, nyaman dipake dah.” Kata si abang pedagangnya. Dia tentu bilang bahwa barang dagangannya memiliki kelebihan. Pun begitu dengan tanah, lokasi sudah pasti strategis, harga murah, bikin perumahan sudah pasti laku, begitu kata pemilik tanah tersebut atau kata brokernya. (more…)

Share Button

Angin Segar Rumah Bersubsidi

rumah-subsidi

 

Rumah murah bersubsidi menjadi solusi bagi masyarakat berpenghasilan rendah dalam mencari rumah idaman di tengah pertumbuhan sektor properti yang melaju pesat. Meski begitu, dalam perjalanannya, program ini banyak menemui kendala, khususnya yang dialami para pengembang.

Memiliki rumah yang sehat dan layak merupakan kebutuhan pokok manusia. Namun, akibat permintaan meningkat karena pertumbuhan ekonomi yang makin stabil, harga tanah lantas melonjak tajam.

Hal ini tentu memberatkan kalangan menengah bawah sehingga tidak bakal mampu membeli tempat tinggal. Namun tidak perlu khawatir, sejumlah pengembang masih ada yang menawarkan hunian terjangkau bersubsidi, meskipun lokasinya berada di kawasan pinggiran.

Diketahui, sekitar 10 persen dari sekitar 260 juta jiwa penduduk Indonesia belum memiliki rumah karena kemampuan ekonomi yang terbatas. Karena itu, pemerintah pusat berupaya keras untuk merumahkan masyarakat yang belum memiliki hunian.

Salah satunya dengan memberikan kredit kepemilikan rumah (KPR) bersubsidi melalui skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) yang suku bunganya rendah dan sangat terjangkau.

Akhirnya, hunian murah yang masuk program Satu Juta Rumah yang digagas Presiden Joko Widodo sejak 1 Mei 2015 tersebut banyak dibangun pihak pengembang. Tahun ini program tersebut menargetkan pembangunan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 700.000 unit dan 300.000 unit untuk non-MBR.

Meski begitu, belakangan program ini banyak menemui kendala yang dialami para pengembang. Di antaranya, tingginya harga lahan sehingga membuat banyak pengembang kurang berminat. (more…)

Share Button

Kelebihan Sektor Properti untuk Tampung Dana Tax Amnesty

tax amnesty pengampunan pajakSektor properti jadi salah satu alternatif yang dinilai paling tepat untuk menyimpan dana repatriasi melalui program tax amnesty yang digulirkan oleh pemerintah.

Menurut Presiden Direktur Synthesis Development Budi Yanto Lusli, kendati bisa menghasilkan keuntungan dengan cepat namun saham memiliki likuiditas yang tinggi.

“Tapi juga turunnya saham itu cepat, likuid-nya cepat. Tapi biasanya itu ada dua nature investor properti, ada yang suka dua-duanya, saham dan properti tapi ada juga yang salah satu saja, demen properti saja,” kata Budi saat diskusi media, di Jakarta, Kamis (22/9/2016).

Sementara itu Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan, masyarakat diimbau untuk bisa memanfaatkan momentum tax amnesty tersebut dengan menggunakan instrumen investasi properti baik di dalam penyertaan modal maupun pembelian langsung.

Menurut dia, sektor properti menjadi investasi dengan risiko yang rendah sehingga properti jadi instrumen paling aman. (more…)

Share Button

BTN Luncurkan Skema KPR Untuk Pekerja Informal Akhir Tahun

paket kebijakan ekonomi rumah murah

Pemerintah bersama PT Bank Tabungan Negara Tbk. menargetkan pada Desember tahun ini siap untuk meluncurkan proyek perumahan bagi pekerja di sektor informal dengan skema kredit pemilikan rumah yang unik dari BTN.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BTN) Maryono mengatakan, angka kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan hunian atau backlog saat ini yang berkisar antara 11 juta hingga 13 juta rumah tidak dapat sekadar ditangani dengan cara-cara yang bisa seperti selama ini.

Kebutuhan tiap tahun meningkat sekitar 800.000 unit rumah, sementara kemampuan penyediaan selama ini hanya sekitar 400.000 unit, menyisakan defisit sekitar 400.000 unit tiap tahun. Bahkan dengan target sejuta rumah setahun pun,  butuh minimal 15 tahun untuk menyelesaikan masalah defisit hunian.

Maryono mengatakan, hingga saat ini sudah banyak stimulus yang diberikan untuk program perumahan rakyat, tetapi asas kehati-hatian yang diterapkan perbankan sulit untuk begitu saja menjangkau pekerja informal. Padahal, sektor ini menyumbang angka backlog yang tinggi.

“Kalau bisa cukup enam hingga tujuh tahun kita usahakan tutup backlog perumahan ini. Untuk itu kami juga buat trobosan lain, kami tidak hanya melakukan pembiayaan yang subsidi dan non-subsidi, tetapi kami akan masuk lebih dalam melalui KPR untuk pendapatan tidak tetap,” katanya, dikutip Senin (19/9/2016). (more…)

Share Button

Sekelumit Tentang Luas Tanah Efektif, KDB dan GSB

tanah efektif adalah

Luas tanah efektif (sering juga disebut kavling efektif) adalah prosentase luasan lahan yang bisa dijadikan kavling untuk dijual dibandingkan dengan luas lahan secara keseluruhan. Menurut pengalaman, besarnya luas tanah efektif yang ideal adalah 60%.

Maksudnya, luas tanah yang bisa dijual adalah 60% dari luas lahan sementara 40% sisanya harus disediakan untuk fasilitas umum dan fasilitas sosial (fasum dan fasos), diantaranya untuk jalan dan fasilitasnya, untuk penghijauan atau taman, fasilitas olah raga, untuk fasilitas ibadah, dan fasilitas umum dan fasilitas sosial lainnya.

Contohnya jika anda memiliki lahan 10.000 meter persegi (m2) dan menurut peraturan di daerah tersebut luas tanah efektifnya adalah 60% maka luas tanah yang bisa dijadikan kavling untuk dijual adalah 6.000 m2 saja, sedangkan sisanya harus diperuntukkan bagi fasum dan fasos yang tidak boleh dijual.

Peraturan tentang besarnya kavling efektif ini penting untuk diperhatikan karena ada lokasi tertentu yang pemerintah daerahnya menerapkan peraturan kavling efektif lebih kecil dari 60%. Kondisi ini memberi kesulitan tersendiri bagi developer karena kavling yang bisa dijual menjadi berkurang sehingga harga jual menjadi lebih tinggi dan mungkin saja produk anda akan sulit bersaing.

Sebaliknya ada juga pemerintah yang mengijinkan kavling efektifnya lebih besar dari 60%. Nah, ini yang luar biasa, anda memiliki kavling yang bisa dijual menjadi lebih besar sehingga anda bisa menjual dengan harga lebih rendah.

Dengan catatan anda adalah developer baik yang tetap pada target keuntungan tertentu. Jika tidak, tentu anda akan tetap pada harga semula-dengan perhitungan kavling efektif 60%-supaya keuntungan bisa menjadi lebih besar. Hehehe. (more…)

Share Button

Ini Dia Keuntungan Developer dengan Jualan di Internet untuk Memasarkan Properti

kementerian-pupr-usulkan-anggaran-perumahanPerlu ada edukasi dan perubahan pemahaman oleh para pengembang properti dalam memandang online advertising atau periklanan melalui jaringan internet.

Founder Lamudi Global Kian Moini mengatakan, para pengembang harus mulai menyadari pentingnya return on investment (ROI) melalui periklanan atau advertising.

“Masih banyak yang belum sadar dengan ROI ini bahwa ini adalah sesuatu yang penting. Kenapa logika ROI ini belum sampai ke pengembang properti di Indonesia? Karena belum ada transparansi efektivitas media konvensional terhadap penjualan,” ujar Kian di Jakarta, Selasa (20/9/2016).

Kian memaparkan, berdasarkan data yang dimilikinya, online advertising memiliki return on investment yang tinggi dalam jangka pendek sebesar 2,18 persen, mengungguli ROI melalui iklan TV hanya sebesar 0,94 persen, media luar ruang 0,34 persen, dan surat kabar 0,24 persen.

“Jadi inilah pekerjaan rumah kita untuk bisa mengedukasi pengembang properti di Indonesia sehingga pemanfaatan media online sebagai media promosi produk lebih optimal lagi,” tuturnya. (more…)

Share Button
Page 1 of 4512345...102030...Last »