Keterbatasan dana internal perusahaan seringkali menjadi hambatan bagi developer untuk dapat menangani proyek-proyek besar.

Karena itulah suntikan dana dari berbagai sumber sangat diperlukan guna memenuhi anggaran proyek yang tidak memungkinkan jika hanya dipikul oleh keuangan perusahaan.

Diantara berbagai sumber dana yang ada tersebut, investor menjadi salah satu pilihan terbaik karena tidak dibutuhkan jaminan untuk dapat mengajak mereka bekerjasama dalam membantu proyek dari sektor pembiayaan.

Persoalannya, banyak pengembang yang masih belum tahu, bagaimana membuat proposal yang baik dan benar.

Terlebih, banyak contoh proposal kerjasama bisnis properti yang mereka pelajari selama ini, ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan para investor.

Bagi developer yang masih belum menguasai pembuatan proposal kerjasama bisnis properti, berikut beberapa tips yang bisa dijadikan petunjuk:

Pahami Trust, Safety dan Profiability

Sebelum membuat proposal, pelajari dulu calon investor sehingga tidak serta merta membuat proposal dan mengajukannya kepada calon investor yang belum kita ketahui sama sekali profilnya. Dalam mempelajari calon investor tersebut, 3 hal yang perlu diperhatikan,yaitu: Trust, Safety dan Profiability.

Trust adalah tingkat kepercayaan investor kepada developer. Bagi perusahaan developer besar yang telah memiliki nama dan mempunyai kredibilitas yang baik, relatif lebih mudah dalam menggaet investor, karena nama besar perusahaan dengan sendirinya akan membangun tingkat kepercayaan publik termasuk tingkat kepercayaan investor kepada developer.

Berbeda halnya dengan developer menengah kebawah yang kinerjanya belum banyak diketahui publik. Karena itu, bagi developer yang masih belum memiliki nama, usahakan untuk memprioritaskan proposal kepada calon investor yang sudah dikenal atau setidaknya sudah mengetahui kinerja Anda.

Safety berkaitan dengan tingkat keamanan dana yang diinvestasikan, karena investor manapun pasti akan memilih tempat berinvestasi yang aman.

Itu sebabnya dalam berbagai contoh pembuatan proposal kerjasama bisnis properti selalu terdapat bab yang memberikan penjelasan tentang prospek dari properti yang dibangun berikut daya serap pasar terhadap properti tersebut. Profitability berhubungan dengan keuntungan yang bisa diperoleh dari dana yang diinvestasikan.

Semakin besar keuntungan yang dijanjikan pihak developer, tentunya akan semakin mengundang daya tarik calon investor. Namun, janji pembagian keuntungan sebagaimana yang tertuang di dalam proposal, harus dalam batas yang wajar.

Jangan karena ingin mendapatkan suntikan dana, lantas memberikan janji diluar kemampuan perusahaan karena hal tersebut justru akan menjadi bumerang.

Tebal Tipis Bukan Ukuran

Banyak contoh proposal kerjasama bisnis di bidang properti yang dibuat sangat tebal, sehingga saat melihatnya saja sudah merasa pusing apalagi membacanya.

Padahal tebal tipisnya proposal bukan merupakan ukuran untuk lolos dan tidaknya proposal tersebut dalam penilaian investor.

Selain itu, satu hal yang harus dipahami adalah bahwa investor bukan lembaga akademik yang memiliki cukup banyak waktu untuk mempelajari sebuah materi tertulis yang tertuang dalam buku.

Bagi investor yang memiliki keterbatasan waktu, yang terpenting adalah bagaimana proposal tersebut mampu merepresentasikan kondisi proyek yang akan dikerjakan dan sistem kerjasama yang akan dibangun, sehingga untuk menuangkannya cukup dengan 10 – 15 halaman.

Selama proposal tersebut mudah dimengerti dan dipahami, semakin singkat waktu yang dihabiskan investor untuk mempelajari proposal justru semakin baik.

Terstruktur

Untuk dapat memberikan penjelasan yang baik dan mudah dimengerti, tidak perlu harus menggunakan data yang sangat detail mulai dari analisa pasar sampai dengan RAB, tapi cukup dengan penjelasan singkat lewat Executive Summary yang berisi lokasi proyek, luas proyek, siteplan, proyeksi keuntungan dan kerugian, besaran modal, jangka waktu dan bagi hasil serta rencana desain promosi.

Setelah itu tinggal membuat pemaparan secara terstruktur agar proposal dapat lebih mudah dipelajari. Pemaparan tersebut meliputi: Latar Belakang, Aspek Pemasaran, Rencana Anggaran Biaya dan Analisis Finansial serta Jangka Waktu dan Pengelolaan Proyek.

Model pemaparan sebagaimana tersebut diatas sifatnya tidak mutlak, karena pihak developer bisa memberikan penekanan yang berbeda pada proposal yang dibuatnya.

Bentuk-bentuk pemaparan tersebut dapat dilihat di berbagai contoh proposal kerjasama bisnis properti yang ada, namun yang pasti, proposal tersebut harus dapat memberikan gambaran tentang kondisi proyek yang akan dibangun dan sistem kerjasama yang akan dibuat antara investor dengan pihak developer.

Jangan lupa gambaran yang jelas dan detail tersebut harus dapat disajikan dalam waktu yang singkat.

 

Lihat artikel lainnya:
Ditengah booming-nya bisnis properti dan banyaknya investor yang masuk serta siap...
Sifat lahan atau tanah yang tidak dapat diperbarui membuat harga aset yang satu ini...
Kerjasama developer dengan bank hampir tidak bisa dilepaskan, terlebih bagi developer...
Bisnis developer tidak berbeda jauh dengan bisnis-bisnis yang lain, yaitu sama-sama...
Pengadaan lahan oleh pengembang untuk membangun sebuah proyek, tidak harus dengan...
Untuk menjadi developer properti anda harus kreatif, baik dalam proses mencari...
Ini Tips Membuat Proposal Kerjasama Bisnis Properti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *