Kerjasama lahan merupakan pola kerjasama antara pemilik tanah dengan developer untuk melaksanakan sebuah proyek property, baik proyek tersebut berupa perumahan, apartemen, gedung perkantoran atau produk-produk properti lainnya.

Idealnya kerjasama lahan adalah untuk proyek-proyek yang produknya dijual putus kepada end user, jadi bukan untuk proyek dengan sistem Kerjasama Operasi (KSO) atau dengan sistem Build Operate and Transfer (BOT).

Hal yang perlu diperhatikan dalam kerjasama lahan ini diantaranya adalah prinsip berkeadilan. Berkeadilan yang dimaksud disini adalah pelaksanaan kerjasama dengan menerapkan prinsip proporsional, siapa yang menanggung resiko paling besar dialah yang mendapatkan bagian paling banyak.

Pada kenyataannya developerlah yang akan menanggung resiko lebih besar karena developer mengerjakan proyek property di atas tanah milik orang lain bukan pada tanah miliknya sendiri.

Apabila sudah mengerjakan proyek di suatu lokasi sudah dipastikan bahwa developer mengeluarkan biaya untuk pengerjaan itu. Walaupun pengerjaan proyek tersebut masih dalam tahapan land clearing, pengurugan dan pekerjaan tahap awal lainnya.

Baca juga: Workshop Developer Properti di Indonesia yang Wajib Anda Ikuti

Sementara pemilik lahan bisa dikatakan lebih aman karena penyertaannya dalam proyek adalah berbentuk tanah yang tidak mungkin bisa dibawa kabur kemanapun… hehehehe…

Jadi jika terjadi kegagalan proyek maka developer akan kehilangan uang sedangkan tanah tidak hilang.

Keuntungan dan kerugian kerjasama lahan

 

Bagi pemilik lahan keuntungan kerjasama lahan ini adalah dia mendapatkan bagian keuntungan proyek selain mendapatkan harga tanah. Sementara bagi developer kerjasama lahan ini mereduksi modal kerja yang dibutuhkan untuk mengolah suatu proyek.

Karena berdasarkan pengalaman alokasi dana untuk mengakuisisi lahan ini mengambil porsi lebih kurang tigapuluh persen dari RAB proyek. Bisa dihitung keringanan kebutuhan biaya investasi jika proyek menerapkan pola kerjasama lahan dengan pemilik tanah.

Kerugian kerjasama lahan ini bagi pemilik lahan adalah mereka tidak mendapatkan uang pembayaran atas harga tanahnya sekaligus. Sementara bagi developer kerugian kerjasama lahan ini adalah developer musti rela berbagi keuntungan dengan pemilik lahan.

Akan tetapi jika kita menghitung berdasarkan prosentase keuntungan maka kerjasama lahan ini memberikan prosentase keuntungan yang lebih besar walaupun nominalnya lebih kecil. Adalah pilihan kita apakah kita bermain di prosentase atau nominal.

Menghitung besarnya bagi hasil

 

Sebenarnya menghitung besaran bagi hasil proyek harus dengan detil dengan memperhatikan besaran bagian masing-masing pihak dalam proyek, supaya bagi hasilnya memenuhi prinsip-prinsip keadilan.

Besarnya bagian pemilik lahan bisa dilihat dengan membandingkan prosentase harga tanah dengan RAB proyek. Sehingga semakin tinggi harga tanah semakin besar pula bagian pemilik lahan.

Akan tetapi kebanyakan developer tidak menghitung dengan sistem tersebut karena terlalu rumit sedangkan pemilik lahan pada umumnya tidak mau mendengarkan yang rumit-rumit, walaupun untuk keperluan internal atau pembuatan Studi Kelayakan Proyek memerlukan perhitungan detil.

Sehingga sistem tersebut disimplifikasi dengan menawarkan pilihan-pilihan besarnya bagi hasil kepada pemilik lahan, seperti 80:20, 70:30, 60:40, 50:50 atau sebaliknya. Sebagai contoh jika developer menawarkan pola bagi hasil 70:30 kepada pemilik lahan, maka bagian pemilik lahan adalah tigapuluh persen dari laba bersih proyek.

Jika harga tanah lebih kecil dari harga bangunan atau lokasi hanya cocok dibangun Rumah Sederhana Sehat (RSH) porsi bagi hasilnya yang lebih cocok adalah 80:20 untuk developer.

Demikian juga jika harga tanah mendekati harga bangunan permeternya sang developer bisa menawarkan bagi hasil dengan sistem 60:40 bagi developer.

 

Sedangkan kalau harga tanah sama atau lebih besar jika dibandingkan dengan harga bangunan maka bagi hasil yang pantas adalah 50:50 atau dengan kesepakatan lain.

Hal yang tak boleh dilupakan, jika pemilik lahan meminta uang muka atas tanahnya maka porsi keuntungannya juga menjadi lebih kecil.

Perlu diingat juga bahwa porsi keuntungan yang akan ditawarkan kepada pemilik tanah ini tidak harus seperti di atas. Anda sebagai developer bisa menawarkan bagi hasil dengan pola seperti apapun sepanjang disepakati oleh pemilik tanah ya oke-oke saja.

Untuk memastikan pelaksanaan kerjasama ini nantinya harus dibuatkan perjanjian tertulis dengan notaril akta supaya memiliki kekuatan hukum yang lebih mengikat.

Dalam perjanjian kerjasama tersebut dicantumkan masing-masing hak dan kewajiban para pihak, disertai juga dengan sanksi-sanksi jika salah satu pihak wanprestasi..

Selamat menjadi developer…

Note: Jika anda memiliki lahan dan ingin mencari developer yang bisa mengerjakan lahan anda dengan sistem bagi hasil yang jujur dan sesuai Syari’ah Islam, silahkan menghubungi kami:

Asriman A.T.:

Mobile/WA: 0812 9446 8324

BBM Pin: 5a5c982b

Email: asr1008@yahoo.com

Atau silahkan isi contact form berikut:

Masukkan Nama dan Email Utama Anda untuk Mendapatkan Info Detil dan Jadwal Workshop Developer Properti

Share Button
Lihat artikel lainnya:
Dibutuhkan partner untuk membeli lahan untuk dibangun proyek-proyek properti. Seiring...
Berbeda dengan praktek kerjasama lahan dengan pola bagi hasil atau pembayaran...
Dalam kerjasama lahan, pemilik lahan mendapatkan 2 keuntungan. Pertama, dia mendapatkan...
Untuk menjadi developer properti anda harus kreatif, baik dalam proses mencari...
Saat ini, pemilik tanah yang ingin menjual tunai lahannya harus memahami bahwa orang...
Jika lokasi proyek anda bukan di pinggir jalan utama, maka perlu anda perhatikan...

Article Tags:

Begini Cara Kerjasama Lahan untuk Developer

5 thoughts on “Begini Cara Kerjasama Lahan untuk Developer

  • Pingback: www.asriman.com » Memecah Sertifikat secara Pribadi

  • May 2, 2015 at 5:32 am
    Permalink

    mantap, klo sdah dpt kerjasama lahan tp jg tdk punya modal utk pembangunannya bgimana utk cara mencari pemodal nya bos ?

    Reply
    • May 3, 2015 at 2:46 pm
      Permalink

      Silahkan pembaca kalau ada yang bisa menjawab pertanyaan dari Bpk. Uuk. 😀

      Reply
    • August 27, 2015 at 2:28 am
      Permalink

      jual kpr indent aja, jd bsa bangun rmh dari pinjaman bank yang tentunya kita harus memasarkan rmh yg akan di bangun tsb,,

      Reply
  • November 1, 2015 at 2:40 am
    Permalink

    Benar kita pakai sistem kpr inden saja atau menggunakan perputaran uang Dp

    Saya saat ini menganut sistim Dp 10 kali jd selama tempo ini developer bisa memutar keuangan nya sedangkan pembangunan realisasi setelah DP lunas

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *