Permenpupera Nomor 11/Prt/M/2019 Tentang Sistem Perjanjian Pendahuluan Jual Beli Rumah

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Sistem Perjanjian Pendahuluan Jual Beli yang selanjutnya disebut Sistem PPJB adalah rangkaian proses kesepakatan antara setiap orang dengan pelaku pembangunan dalam kegiatan pemasaran yang dituangkan dalam perjanjian pendahuluan jual beli atau perjanjian pengikatan jual beli sebelum ditandatangani akta jual beli.

2. Perjanjian Pendahuluan Jual Beli atau Perjanjian Pengikatan Jual Beli yang selanjutnya disebut PPJB adalah kesepakatan antara pelaku pembangunan dan setiap orang untuk melakukan jual beli rumah atau satuan rumah susun yang dapat dilakukan oleh pelaku pembangunan sebelum pembangunan untuk rumah susun atau dalam proses pembangunan untuk rumah tunggal dan rumah deret yang dinyatakan dalam akta notaris.

3. Pemasaran adalah kegiatan yang direncanakan pelaku pembangunan untuk memperkenalkan, menawarkan, menentukan harga, dan menyebarluaskan informasi tentang rumah atau perumahan dan satuan rumah susun atau rumah susun yang dilakukan oleh pelaku pembangunan pada saat sebelum atau dalam proses sebelum penandatanganan PPJB.
4. Rumah adalah bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya, serta aset bagi pemiliknya.
5. Rumah Susun adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional, baik dalam arah horizontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama.
6. Satuan Rumah Susun yang selanjutnya disebut Sarusun adalah unit Rumah Susun yang tujuan utamanya digunakan secara terpisah dengan fungsi utama sebagai tempat hunian dan mempunyai sarana penghubung ke jalan umum. (more…)

Bisnis Properti yang Menciptakan Kekayaan

Sudah menjadi rahasia umum, bisnis properti adalah salah satu bisnis yang paling cepat menciptakan kekayaan.

Bebarapa konglomerat besar lebih popular dalam bisnis propertinya dibanding bisnis utama lainnya. Apa yang kita tahu dengan Group Sinar Mas? Perumahan BSD, bukan Indah Kiat Pulp & Paper (pabrik kertas).

Apa yang kita ingat dari The Nin King, Perumahan Alam Sutera, bukan Argo Pantes (Pabrik tektil). Yang kita ingat dari Group Agung Sedayu, Perumahan Pantai Indah Kapuk, yang kita ingat dari Group Lippo adalah Perumahan Lippo Karawaci, yang kita ingat dari Paramount adalah perumahan Paramount Serpong dan Bekasi, bukan pabrik Batik Keris.

Dalam bisnis properti, laku atau tidak laku rumah yang kita jual, kita tetap jadi orang kaya, jika rumah yang kita bangun cepat laku kita jadi kaya, banyak duit.

Jika rumah tidak laku, kita tetap jadi orang kaya, punya banyak rumah (asset). Serta ingat, harga rumah selalu naik, meskipun tidak laku, secara asset kekayaan jadi naik.

Sharing

Pada tahun 2005, di salah satu proyek cluster yang sedang saya bangun, saya sedang menugaskan kontraktor untuk membangun 3unit rumah.

Meskipun total lahan masih tersedia 5 kaveling, dengan pertimbangan belum ada pembeli potensial saya hanya menugaskan kontraktor membangun 3 rumah. (more…)

Hindari Premature Partnership dalam Berbisnis

 

Seorang teman saya, sama-sama warga Kampoeng SyaREA World (KSW)-tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin menerapkan Syari’at Islam dalam berbisnis, mengisahkan pengalaman perkongsiannya dengan seorang rekan bisnisnya. Berikut kisahnya…

Saya punya pengalaman berharga dalam hidup saya, saya pernah menjalani bisnis properti yang berkongsi dengan teman yang saya kenal di suatu training properti. Dari penampilannya saya menilai dia orang yang jujur dan amanah.

Singkat cerita, nasib baik menghampiri, kami mendapat kesempatan mengembangkan proyek seluas 1 hektar yang akan dibangun 68 unit rumah. Proyek ini kami dapatkan setelah beberapa waktu jalan berdua, mulai mencari lahan, investor, arsitek, kontraktor, bank, Notaris, mengurus perijinan ke instansi terkait, mengurus legalitas tanah ke BPN dan sebagainya.

Dari awal, proses persiapan legalitas, perijinan dan disain proyek dapat kami lewati dengan baik. Tiba saatnya kami memulai proyek yang sebenarnya, pembangunan fisik dilakukan, pemasaran digencarkan dan uangpun mulai mengalir. (more…)

Kenapa Anda Harus Menjadi Developer Properti?

Karena Developer Properti Bebas Menentukan Harga Jual Produknya

Developer bebas menentukan harga jual produknya. Tidak ada yang mengatur dan membatasi seorang developer properti menetapkan harga jual produknya selain kewajaran dan daya beli masyarakat terhadap produk tersebut.

Selain itu, harga kompetitor juga ikut menentukan strategi harga dari seorang developer.

Seorang developer akan membangun proyek di atas lahan seluas 5.600 m2 di daerah Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tipe yang dipasarkan adalah rumah tipe 45. Setelah menganalisa, maka dia mendapatkan harga wajar produknya adalah 400 juta rupiah per-unit (harga rata-rata).

Tapi pada pemasaran tahap awal dia memasarkan dengan harga 330 juta untuk 3 unit pertama, dengan syarat pembayaran uang muka harus 50% atau tunai 100% walaupun produknya belum dibangun.

5 unit selanjutnya dijual dengan harga 360 Juta, kemudian harga normal diterapkan untuk penjualan unit selanjutnya.

Inilah contohnya bahwa developer bebas menerapkan harga jual untuk produknya. Tentu beda halnya dengan penjualan emas atau saham, dimana si pemilik tidak bisa menerapkan harga  sesuka hatinya. 

Karena Seorang Developer Bebas Menerapkan Desain Produknya

(more…)

Merencanakan Proyek Properti dengan Pola Menyerang 3-4-3

pola pelaksanaan proyek

Masih ingat pola 3-4-3 dalam sepakbola? Pola ini dipakai oleh pelatih apabila mengingingkan pola menyerang dalam bermain. Tim-tim yang menerapkan pola ini bermain sangat atttactive dan menarik untuk ditonton.

Ya, bagi penonton sangat membosankan bila menonton pemain dengan pola bertahan ala catenaccio-nya Italia atau gaya tradisional Inggris Raya dengan kick and rush.

Dengan kick and rush pemain bek atau pemain tengah cenderung langsung menendang bola ke kotak penalti lawan jika mendapat bola dan membiarkan pemain depan berjuang sendirian mencetak gol. (more…)

Inilah Kenapa Bisnis Properti Itu Amat Menguntungkan

Karena Bisa Mendapatkan Passive Income dan Massive Income dari Properti

Properti bisa memberikan penghasilan passive income  dan massive income bagi pemiliknya, jika tahu caranya. Passive income (penghasilan yang didapatkan tanpa bekerja) bisa diperoleh dengan cara meyewakan properti tersebut kepada orang lain.

Nilai sewa yang bagus adalah sekitar 10% dari nilai properti pertahun. Tapi di Indonesia amat jarang properti yang bisa menghasilkan sewa sampai dengan 10%.

Berdasarkan pengalaman nilai sewa rata-rata di Indonesia adalah 5% saja. Memang harga sewa properti seperti ruko sangat tinggi di daerah tertentu, tapi harga rukonya juga sangat mahal sehingga secara prosentase nilai sewanya kecil sekali.  (more…)

Ini Dia Alasan Kuat Anda Harus Berbisnis Properti

Karena Properti adalah Kebutuhan Primer

Kebutuhan terhadap properti atau papan, bersama sandang dan pangan termasuk kebutuhan primer manusia. Artinya setiap orang membutuhkan properti (tempat tinggal). Tanpa tempat tinggal orang tidak bisa hidup normal.  

Sebenarnya, orang bisa menyewa properti terlebih dahulu jika memang tidak punya uang untuk membelinya. Tetapi dengan menyewa properti terus menerus sebagian uang mereka akan tersedot untuk membayar sewa yang umumnya naik tiap tahun.

Sayangnya lagi, mereka tidak ada peluang menikmati nilai ekonomis dari rumah yang disewanya tersebut.

Selain itu, orang bisa memenuhi kebutuhan propertinya dengan menumpang pada keluarga, baik keluarga langsung—rumah orang tua, rumah saudara, dan lain-lain—ataupun keluarga karena perbesanan (mertua), tetapi tentu saja berbeda rasanya tinggal di rumah sendiri dengan menumpang di rumah orang lain.

Baca juga: Workshop Developer Properti di Indonesia yang Wajib Anda Ikuti

Bagi mereka yang tinggal menumpang, tentu mereka tidak ingin selamanya seperti itu. Bagi orang yang sudah berkeluarga yang masih tinggal menumpang di rumah orang tua, saudara, mertua atau orang lain pasti merasakan pahit getirnya. Pokoknya nggak enak deh tinggal numpang!. (more…)

Ini Besaran Bunga KPR yang Ideal Menurut Pengembang

Pengaruh Covid19 terhadap bisnis properti

Tak dipungkiri masih banyak pengembang yang merasa kesulitan menjalankan bisnisnya di tengah wabah Covid19 yang masih sedang berlangsung. Selain memang ada beberapa pengembang yang seperti tidak terpengaruh pandemi.

Mereka yang terpengaruh pada umumnya adalah pengembang menengah atau menengah ke bawah yang memiliki modal yang tidak kuat.

Dari sisi pengembang, mereka adalah pengembang kecil dengan modal pas-pasan, sementara dari sisi pasar yang mereka garap adalah masyarakat menengah ke bawah, bahkan MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah).

Hal ini disebabkan oleh MBR-lah yang amat terdampak oleh wabah Covid19. Banyak diantara mereka yang terpaksa berhenti bekerja karena tempat mereka bekerja berhenti beroperasi.

Pengembang kecil ini pada umumnya memiliki target market adalah orang yang membeli properti pertama dan untuk ditinggali. 

Jadi pengembang dengan kategori menengah dan menengah ke bawah sangat merasakan paparan Covid19 karena pangsa pasar mereka adalah golongan yang rentan terhadap perubahan kondisi.

Kondisi ini masih diperparah oleh perbankan yang tidak mendukung kemudahan masyarakat dalam membeli rumah.

Covid19 tidak berpengaruh terhadap pengembang mapan

Sedangkan pengembang yang seakan-akan tidak terpengaruh adalah pengembang yang kuat dari sisi permodalan. Mereka sudah mapan dalam menjalankan bisnisnya.

Mereka ini umumnya adalah pengembang yang telah memiliki sejarah panjang di jagad properti tanah air.

Dari sisi pengembang, mereka adalah pengembang besar dan mapan, demikian juga dari sisi pangsa pasar, menargetkan golongan mapan, yang tidak terpengaruh wabah. Karena memang mereka sudah punya uang yang cukup.

Mayoritas bagi mereka, membeli properti bukan untuk ditinggali, atau sekurangnya properti yang mereka beli bukanlah properti pertama.

Suku bunga perbankan masih tinggi

Perbankan seakan tidak berniat melancarkan bisnis properti, ini dapat dilihat dari masih tingginya suku bunga untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau Kredit Pemilikan Apartemen (KPA). (more…)