kapan menjual perumahan

Pada prinsipnya pemasaran sudah bisa dimulai saat perijinan proyek (Ijin Mendirikan Bangunan, IMB) sudah terbit. Dimana IMB didapat setelah melalui proses perijinan mulai dari Ijin Lokasi (IL) sampai dengan disahkannya siteplan.

Namun supaya target pemasaran tercapai, pemasaran hendaknya dilakukan setelah ada persiapan lokasi disamping perijinan.

Sekurangya sudah ada pengerjaan beberapa pekerjaan seperti perataan lokasi, pembangunan jalan kavling dan gerbang proyek.

Apalagi proyek yang luas dan unitnya banyak sangat penting untuk melakukan persiapan lokasi agar calon konsumen yakin terhadap keberlangsungan proyek.

Kondisi idealnya tentu menjualkan proyek setelah unitnya terbangun, namun saat ini jarang developer yang menyiapkan unit ready stock karena dengan menyediakan unit yang ready stock developer membutuhkan modal yang besar untuk memulai proyek.

Tidak hanya itu, jika pembangunan unit dilakukan sebelum terjual maka developer berpotensi rugi ketika unit yang dibangun tersebut tidak terjual dalam jangka waktu yang lama.

Namun di sisi lain, menjual properti yang ready stock juga memberi keuntungan tersendiri bagi developer karena lebih mudah meyakinkan konsumen karena barangnya sudah ada.

Berbeda jika pembangunan proyek dilakukan setelah ada konsumennya atau yang lebih dikenal dengan istilah inden, developer tidak membutuhkan uang banyak untuk membangun karena pembangunan bisa dengan menggunakan uang muka dari konsumen.

Bahkan developer tidak membutuhkan uang sama sekali untuk membangun unitnya apabila uang muka konsumen cukup untuk membiayai pembangunan. Jadilah ia menjadi developer tanpa modal!.

Namun dengan pola ini terdapat kesulitan untuk meyakinkan konsumen karena propertinya belum ada. Mereka hanya diyakinkan dengan alat-alat peraga seperti brosur yang memuat rencana gambar rumahnya atau melalui video tentang rekaan bentuk rumahnya jika sudah selesai dibangun nantiya.

Sementara bagi konsumen, membeli rumah dengan kondisi ready stock atau inden memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Jika membeli rumah yang ready stock maka mereka sudah dapat melihat langsung calon rumah mereka.

Dan, apabila pembelian dengan memanfaatkan KPR maka kreditur lebih mudah menyetujui pembiayaan karena mereka dapat melihat langsung dan melakukan penilaian terhadap objek yang menjadi jaminan.

Namun, ketika membeli rumah ready stock ini konsumen tidak terlibat dalam pengawasan pembangunannya sehingga tidak mengetahui mutu material yang digunakan, mereka hanya mendapatkan informasi dari developer, apalagi untuk material dengan posisi yang tidak bisa dilihat secara langsung.

Di sisi lain, apabila membeli rumah inden, maka konsumen dapat melihat langsung proses pembangunan rumahnya dan mengawasi mutu pekerjaan dan materialnya, tak jarang merekapun ikut memandori proses pembangunan.

Hehehe. Hanya saja dengan membeli rumah inden si konsumen harus menunggu beberapa lama untuk dapat menggunakan rumahnya.

Lihat artikel lainnya:
Pemasaran proyek perumahan bisa dimulai ketika perijinan proyek sudah selesai diurus. Namun...
Anda bebas menentukan harga jual produk anda, itulah sifat baik dari bisnis properti....
Perencanaan lahan yang dimaksud di sini meliputi desain masterplan atau siteplan...
Jika lokasi proyek anda bukan di pinggir jalan utama, maka perlu anda perhatikan...
Mengetahui cara mengembangkan proyek properti yang benar penting bagi para pengembang,...
“Sejak memulai proyek pertama, saya sudah memiliki rumah 7 unit di 5 lokasi...
Kapan Waktu Ideal untuk Memulai Pemasaran Proyek Perumahan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *