Bank Sangat Menyukai Agunan Berupa Properti

properti sebagai agunan bank

Pada dasarnya sebuah bank adalah perantara antara orang yang membutuhkan uang dengan orang yang kelebihan uang. Orang yang kelebihan uang menyimpan uangnya di bank sedangkan orang yang membutuhkan uang akan mengajukan pinjaman ke bank.

Bank dianggap sebagai lembaga terpercaya bagi nasabah untuk menyimpan dan mengelola uangnya karena operasional dan kebijakan sebuah bank diatur oleh undang-undang.

Nasabah yang menyimpan uangnya di bank akan mendapatkan keuntungan berupa bunga tabungan. Sedangkan uang nasabah yang disimpan di bank akan dikelola oleh bank dalam bentuk memberikan pinjaman kepada nasabah lainnya atau debitur dengan pengenaan bunga pinjaman.

Bank akan mendapatkan keuntungan karena besarnya bunga pinjaman jauh lebih besar daripada bunga tabungan. Itulah sekelumit tentang hubungan sederhana antara nasabah, debitur dan bank.

Nah dari bahasan di atas kelihatan bahwa bank wajib membayar bunga terhadap uang nasabah yang dititipkan kepadanya dan uang untuk membayar bunga tabungan nasabah diperoleh dari bunga pinjaman debitur. Itulah sistem operasional dari bank. Jadi dari perspektif ini sebenarnya bank sangat berkepetingan memberi pinjaman kepada debitur. (more…)

Share Button

Sampai Dimana Komitmen Mu?

komitmen kuat untuk sukses

Hari itu di Hotel Pullman Jakarta saya ketemu dengan alumni peserta Workshop Developer Properti saya. Ngobrol ngalor-ngidul kesana kemari dari yang ringan sampai yang serius. Pertanyaan wajib yang saya ajukan jika ketemu para alumni tentu saja tentang implementasi apa yang sudah didapat di Workshop.

“Gimana rencana proyeknya?”, saya bertanya. “Masih belum bisa membuka proyek pak karena masih banyak urusan di luar properti”, timpalnya.

“Saya akan mencoba, I will try” katanya ketika saya tantang dia untuk membuka proyek dalam jangka waktu 4 bulan ke depan.

Mendengar jawaban ini Saya tahu dia akan gagal memenuhi tantangan saya karena dalam kalimat I will try tidak ada komitmen sama sekali terhadap kesuksesan. Dalam kalimat tersebut ada nada excuse jika gagal. Akan banyak sekali alasan yang dijadikan penyebab jika ia tidak memenuhi komitmen tersebut. “Toh saya sudah mencobanya”, kilasnya jika ia gagal. (more…)

Share Button

Begini Siklus Bisnis Properti di Indonesia

siklus bisnis properti indonesia

Dalam beberapa tahun belakangan trend perkembangan bisnis properti mengikuti siklus lima tahunan. Mari kita lihat ke belakang di tahun 1998 ketika terjadi kerusuhan di Indonesia khususnya di Jakarta.

Kerusuhan dipicu oleh beberapa kondisi dan kejadian seperti krisis moneter yang berujung pada krisis ekonomi di Indonesia dan krisis finansial di Asia yang menyebabkan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar merosot drastis.

Pemicu lainnya adalah peristiwa penembakan mahasiswa Universitas Trisakti yang berujung lengsernya Soeharto sebagai presiden Republik Indonesia.

Krisis ekonomi menyebabkan masyarakat kehilangan daya beli termasuk daya beli terhadap properti sehingga pasar properti mengalami stagnasi. Kondisi ini diperparah oleh buntut kerusuhan yang menyebabkan banyak orang yang ingin menjual propertinya di Indonesia, tetapi masalahnya adalah pembeli properti yang langka sehingga harga properti anjlok, ujung-ujungnya banyak pasokan properti yang tidak terserap pasar, proyek mangkrak karena tidak ada pembeli.

Pasar properti mulai membaik di tahun 2000 dan mencapai puncaknya di tahun 2002 dan 2003 yang ditandai dengan harga properti melambung tinggi. Siklus alamiahpun terjadi, harga yang sudah melambung tinggi menyebabkan tidak ada lagi orang yang sanggup membeli sehingga selanjutnya harga properti kembali turun. (more…)

Share Button

Kenaikan Nilai Properti Di Atas Suku Bunga Perbankan

kenaikan harga properti

Jika kondisi makro ekonomi normal, kenaikan harga properti biasanya diatas suku bunga perbankan. Menurut penelitian kenaikan properti rata-rata adalah 20% pertahun, jauh lebih tinggi dibanding suku bunga bank, baik dalam bentuk suku bunga tabungan atau deposito yang berkisar antara 2 sampai 4 persen per-tahun.

Seorang kawan saya membeli sebidang tanah seluas 180 m2 di daerah Tebet, Jakarta Selatan, kira-kira 7 tahun yang lalu. Harganya sekitar Dua Juta Lima Ratus Ribu Rupiah per-meter persegi, terhitung lebih murah dari harga pasar waktu itu yang sudah mencapai Tiga Juta Rupiah per-meter persegi. Kenapa bisa murah? Karena tanah tersebut saat itu belum bersertifikat. Awalnya dia ragu untuk membeli karena takut terbelit masalah, karena pada umumnya pemahaman masyarakat bahwa tanah yang belum bersertifikat rentan terhadap masalah dan gugatan hukum.

Untungnya dia pintar dalam mengurai masalah, ketika dia menerima penawaran dari brokernya hal pertama yang dia lakukan adalah meminta copian surat-surat tanahnya, walaupun belum bersertifikat. Nah, surat-surat tanah tersebut dia bawa ke kantor Notaris untuk diperiksa sekaligus mendapatkan konsultasi gratis tentang langkah selanjutnya.

Seorang Notaris tentu saja tahu jenis-jenis alas hak tanah dan cara pengamanannya bagi pembeli, lebih jauh lagi seorang Notaris wajib tahu persyaratan yang harus disediakan jika tanah tersebut ingin ditransaksikan. Saya katakan konsultasi gratis karena pada umumnya seorang Notaris tidak memungut biaya pada tahap awal jika ada klien yang akan bertransaksi. (more…)

Share Button

Kebutuhan Hunian Merupakan Kebutuhan Primer Manusia

rumah subsidi

Kebutuhan terhadap properti atau papan, bersama sandang dan pangan termasuk kebutuhan primer manusia. Artinya setiap orang membutuhkan properti, yang dalam bahasan ini yang dimaksud properti adalah tempat tinggal. Tanpa tempat tinggal orang tidak bisa hidup normal. Contoh yang paling gampang adalah seseorang akan menjadi gelandangan jika tidak memiliki tempat tinggal. Mereka akan menjadikan apapun yang bisa dijadikan tempat berteduh menjadi tempat tinggal, seperti kolong jembatan, gubug di lokasi tidak layak. Ya, merekalah yang dinamakan tunawisma.

Kondisi lebih baik bagi mereka yang memiliki kemampuan untuk menyewa, mereka akan memenuhi kebutuhan tempat tinggal mereka dengan menyewa dalam bentuk rumah kontrakan, rumah kost, menyewa apartemen dan lain-lain. Masih lebih baik juga bagi mereka yang memiliki orang yang besedia membantu untuk memberikan tempat tinggal karena kedekatan keluarga, perbesanan dan pekerjaan dan jenis kedekatan lainnya. Walaupun tidak harus menyewa, mereka bisa menikmati tempat tinggal secara gratis. Termasuk jenis ini orang yang tinggal di PMI atau Pondok Mertua Indah, pembantu rumah tangga yang boleh membawa anak-anaknya untuk tinggal di rumah majikannya.

Karena kondisi ini, maka tidaklah heran jika yang dilakukan pertama kali oleh seseorang jika ia punya uang adalah membeli rumah, tentu saja yang sesuai dengan kemampuan beli. Hal ini tidak bisa disalahkan karena jika terus menerus tinggal di rumah sewa atau kontrakan, maka sebagian uang mereka akan tersedot untuk membayar sewa yang umumnya tiap tahun mengalami kenaikan. Tanpa ada peluang menikmati nilai ekonomis dari rumah tersebut jika dibandingkan dengan memiliki rumah sendiri. (more…)

Share Button
Page 28 of 46« First...1020...2627282930...40...Last »