Partnership Pembelian Lahan untuk Proyek Properti

partnership pembelian lahanDibutuhkan partner untuk membeli lahan untuk dibangun proyek-proyek properti.

Seiring dengan kebijakan perusahaan kami yang lebih mengutamakan mengerjakan proyek-proyek properti dengan sistem kerjasama dengan pemilik lahan, maka dengan ini kami mengundang partner untuk membeli lahan untuk kemudian kami kerjakan proyeknya sampai selesai.

Sebagai developer nasional dan berpengalaman mengelola proyek-proyek prestisius seperti kawasan perumahan mewah, apartemen, gedung perkantoran, hotel, superblock di seluruh kota di Indonesia bahkan di luar negeri kami akan bertanggungjawab mengurus semua hal yang berhubungan dengan pelaksanaan proyek, seperti disain proyek, pengerjaan konstruksi dan pemasaran termasuk menanggung seluruh biaya-biaya proyek.

Sementara partner hanya membelikan lahan yang strategis yang bisa dibangun proyek-proyek seperti office building, apartment, condotel, super block, perumahan dan resort di seluruh Indonesia tanpa dibebankan biaya apapun dalam proses disain sampai selesai proyek.

Kami sanggup mengerjakan proyek dengan nilai yang sangat besar sekalipun dan akan kami presentasikan kepada partner setelah ada rencana lahan yang akan diakuisisi. (more…)

Cara Mudah Memulai Bisnis Developer Properti, Terbukti!

Bisnis developer properti memberikan penghasilan yang besar namun penuh tantangan

Bisnis properti, terutama sebagai developer sangat menarik bagi sebagian orang untuk ditekuni. Menarik karena berbisnis developer properti menjanjikan panghasilan yang besar. Itu hanya salah satu yang menarik di bisnis developer properti masih banyak lainnya.

Namun dibalik menariknya bisnis developer properti terdapat banyak sekali tantangannnya.

Tantangan tersebut terutama karena sifat bisnis developer properti yang berhubungan dengan banyak bisnis di dalamnya.

Banyak sekali bisnis yang mempengaruhi dan dipengaruhi pengembangan sebuah proyek properti. Tak salah kalau bisnis properti dianggap lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional.

Jika bidang pengembangan properti tidak berjalan bagus, maka itu akan mempengaruhi perekonomian nasional.

Karena industri material bangunan akan terganggu, demikian juga bisnis turutan seperti industri perabotan rumah tangga, termasuk industri elektronik kebutuhan rumah tangga juga akan terganggu.

Bisnis properti sangat berhubungan erat dengan industri material bangunan dan industri kebutuhan rumah tangga.

Industri material bangunan sangat dipengaruhi oleh bisnis pengembangan properti sebagai pengguna produknya.

Yang termasuk industri material bangunan ini diantaranya industri semen dan berbagai jenisnya, bata dan bata ringan (hebel), kaca, alumunium, besi dan baja, genteng dan material bangunan lainnya.

Termasuk bisnis material alam juga akan bergerak seperti pasir, batu, tanah dan lainnya.

Sementara bisnis properti memengaruhi kebutuhan terhadap barang-barang elektronik, perabot rumah tangga, dan kebutuhan rumah tanggal lainnya.

Karena ketika sebuah rumah, apartemen, kantor yang akan dihuni atau beroperasi membutuhkan barang-barang elektronik seperti AC, kulkas, TV, mesin, perabotan rumah dan kebutuhan lainnya.

Masing-masing kebutuhan tersebut akan membuat roda perekonomian bergerak.

Tantangan bagi seorang pengembang

Karena banyak sekali bisnis yang terlibat di dalam pengembangan sebuah proyek properti maka banyak sekali tantangannya.

Tantangan tersebut ada yang berasal dari internal proyek sendiri maupun tantangan dari eksternal proyek.

Tantangan internal berhubungan dengan pembentukan organisasi kerja yang solid sehingga dapat menjalankan proyek sesuai perencanaan. 

Tantangan eksternal berhubungan dengan kondisi di luar proyek yang mempengaruhi perjalanan proyek.

Seperti kondisi perekonomian global atau nasional, dan tantangan yang bersifat fisik dan sektoral. Jika perekonomian global dan nasional menunjukkan tren pertumbuhan melambat atau bahkan minus, maka pertumbuhan properti terganggu.

Tantangan fisik dan sektoral biasanya bisa diatasi dengan cara-cara tertentu, seperti gangguan fisik proyek dari pihak-pihak tertentu, bisa juga gangguan legal.

Namun pengaruhnya tidak terlalu besar terhadap pengembangan proyek. Biasanya mudah diatasi.

Tantangan bagi pengembang baru

Bagi pengembang baru, biasanya tantangannya adalah ketersediaan modal. Karena memang untuk memulai sebuah proyek properti membutuhkan modal yang besar.

Modal terutama dibutuhkan untuk membeli tanah, mengurus perizinan, mengerjakan persiapan proyek, membangun fisik proyek (membangun unit dan infrastruktur) dan memasarkan.

Modal membeli tanah

Untuk membeli tanah memakan porsi modal yang besar, akan lebih besar lagi jika tanah harus dibayar tunai. Bayangkan saja jika Anda akan mengembangkan lahan seluas lima hektar saja.

Jika harga tanahnya adalah satu juta maka sekurangnya untuk modal membeli tanah membutuhkan uang lima puluh milyar rupiah.

Dengan jumlah kebutuhan modal untuk membeli tanah sebesar tersebut tidak banyak orang yang sanggup memulai.

Solusinya jika kekurangan modal untuk membeli tanah ini bisa disiasati dengan mengembangkan lahan di luasan yang kecil saja dulu.

Mungkin seribu meter persegi, bisa lima ribu atau berapapun sesuai dengan kemampuan modal.

Atau bisa juga mengembangkan proyek dengan luasan yang lebih besar tetapi menegosiasikan cara pembayaran tanah kepada pemilik lahan.

Selanjutnya modal dibutuhkan juga untuk mengurus perizinan, mengerjakan persiapan lahan, membangun fisik proyek, pemasaran dan lainnya akan dibahas di bagian akhir.

Bisnis Developer Properti Seperti Magnet dan Amat Menguntungkan

‘Orang kaya selalu memiliki properti, walaupun dia bukan pebisnis properti”. Ya, itulah ungkapan yang cocok tentang properti.

Tak kurang seorang Ray Kroc—si pemilik restoran cepat saji asal negeri Abang Sam—mengaku bahwa sebenarnya bisnisnya adalah properti, alih-alih sebagai penjual ayam goreng dan burger. Hmmm.

Begitu seksinya bisnis properti, sehingga saat ini, sudah tidak aneh kita melihat pebisnis yang biasanya bukan dikenal sebagai pebisnis properti, belakangan ia muncul sebagai pebisnis properti dengan proyek yang mentereng.

Kenapa mereka bela-belain masuk ke bisnis properti? Banyak alasannya, terutama karena bisnis properti sangat menarik dan menguntungkan. Ya, seperti sebuah magnet.

Resiko terbilang rendah

Uniknya di bisnis properti, keuntungan yang besar masih dibarengi dengan resiko bisnis yang relatif rendah. Nilai properti yang naik terus menjadi alasannya. 

Sehingga sebuah proyek properti yang terbengkalaipun jika suatu saat akan dikembangkan lagi atau dijual bisa saja menguntungkan, asalkan tanahnya tidak bermasalah.

Ini baru satu alasan yang dikemukakan, masih banyak lagi alasan lainnya.

Jadi jika ada sebuah proyek macet karena sesuatu hal, lalu proyek ini dibiarkan dalam waktu yang lama.

Maka modal yang sudah dikeluarkan di awal bisa terkembalikan oleh kenaikan harga tanah. Karena jika kondisi normal maka kenaikan harga tanah antara 10% sampai dengan 20% tiap tahunnya. 

Properti adalah kebutuhan primer

Alasan lainnya adalah kebutuhan terhadap properti atau papan, bersama sandang dan pangan termasuk kebutuhan primer manusia. Artinya setiap orang membutuhkan properti (tempat tinggal).

Tanpa tempat tinggal orang tidak bisa hidup normal. Sehingga sampai kapanpun orang tetap akan membutuhkan properti sehingga bisnis tidak akan pernah mati.  

Selagi manusia bernafas ia akan tetap membutuhkan properti. Itulah peluang bagi seorang pebisnis properti sebagai developer.

Bisnis properti berhubungan dengan banyak bisnis di dalamnya 

bisnis-properti-banyak-bisnis

Sebuah proyek properti berhubungan secara langsung dan tidak langsung dengan ratusan profesi yang berbeda. Tak kurang menurut Biro Pusat Statistik (BPS) terdapat sekurangnya 173 bidang bisnis terkait.

Dimana bidang bisnis yang terlibat tersebut terdiri dari sektor formal dan ada juga sektor non formal, termasuk para profesional.

Sektor formal diwakili oleh instansi pemerintah melalui pejabat atau stafnya sedangkan sektor informal dan para profesional diwakili oleh para pekerja dan semua yang terlibat dalam proyek tersebut.

Sektor formal

Sektor formal yang berhubungan dengan sebuah proyek properti adalah instansi-instansi pemerintah seperti Kementrian Agraria dan Tata Ruang yang diwakili oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau kantor pertanahan,

Selanjutnya instansi yang berhubungan dengan perijinan dan bangunan seperti pemerintah daerah (Pemda) melalui dinas tata ruang/tata kota, Bappeda, kecamatan, kelurahan atau desa dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).

Tak ketinggalan ada kementrian yang berhubungan dengan pemberian ijin seperti Kementrian Lingkungan Hidup, Kementrian Pemukiman dan Prasarana Wilayah, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan Kementrian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional.

Proyek properti melibatkan sektor non formal

Selain itu sebuah proyek properti melibatkan sektor non formal seperti tukang, mandor, petugas keamanan, tukang kebersihan, supplier material, event organizer, tenaga pemasar tradisional, penduduk setempat, pedagang makanan sekitar lokasi, organisasi kemasyarakatan, dan masih banyak lagi profesi yang berhubungan dengan sebuah proyek properti.

Proyek properti melibatkan juga para profesional

Selanjutnya sebuah proyek properti melibatkan para profesional seperti Notaris/PPAT, appraisal (penilai), arsitek, konsultan atau perencana, insinyur sipil, asuransi, perbankan, surveyor, kontraktor, agen atau broker properti, desain grafis, konsultan marketing, manejer properti dan lain-lain.

Strategi dalam berbisnis pengembangan properti yang bisa Anda praktekkan

menjadi developer properti pemula

Menjadi developer properti bisa dimulai dengan menjadi penjual kaveling tanah satu atau dua unit, untuk selanjutnya membangun perumahan dalam suatu kawasan. 

Berbisnis kaveling tanah

Berbisnis kaveling tanah terbilang simpel, baik dari sisi persyaratan dan durasi bisnis. Simpel dari sisi pelaksanaan bisnisnya mulai dari mengurus perizinan sampai dengan pengerjaan fisik dan penjualan.

Hal ini karena pengurusan perizinan cukup sederhana, cukup sampai pengurusan siteplan saja lalu selanjutnya langsung dijual.

Tidak perlu dilanjutkan dengan mengurus Izin Mendirikan Bangunan (IMB) atau Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).

Sehingga dengan demikian rekomendasi-rekomendasi yang wajib diurus dalam pengembangan sebuah proyek properti.

Seperti rekomendasi Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), Usaha Pengelolaan Lingkungan Hidup/Usaha Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL/UPL), Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan Lingkungan Hidup (SPPL) dan rekomendasi-rekomendasi lainnya.

Namun amat disarankan jika Anda menjual kaveling, sertifikat tanah proyek tersebut harus diselesaikan dengan pemecahan per-kaveling, supaya pembeli merasa aman terhadap kepemilikan tanah yang dibelinya.

Jika pembeli merasa aman maka kaveling-kaveling tersebut lebih mudah menjualnya.

Mulai mengembangkan proyek properti

Selanjutnya Anda bisa naik kelas menjadi developer properti, tidak hanya menjadi pebisnis kaveling tanah. Dengan menjadi pengembang ada banyak sekali manfaat yang bisa Anda dapatkan.

Tanpa mengecilkan manfaat yang lain, manfaat yang sudah jelas adalah seorang pengembang akan mendapatkan keuntungan finansial, karena salah satu sifat bisnis perumahan adalah putaran omsetnya besar.

Bayangkan, jika proyek Anda terdiri dari 5 unit saja sudah memungkinkan Anda memiliki omset satu milyar bahkan lebih. Nah bagaimana cara memulai bisnis developer properti?

Manfaat lainnya adalah jika Anda menjadi pengembang, maka Anda bisa menghidupi banyak sekali orang. Semua orang atau semua pihak yang berhubungan dengan proyek Anda akan mendapatkan penghasilan.

Mencari lahan

Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah dengan mencari lahan yang layak untuk dijadikan proyek. Penilaian tidak jauh-jauh dari harga, karena harga akuisisi lahan sangat menentukan kesuksesan proyek.

Jika Anda bisa mengakuisisi tanah yang bagus maka Anda sudah separo jalan dalam kesuksesan proyek.

Namun selain harga masih banyak faktor yang musti diperhatikan ketika akan mengakuisisi sebidang tanah untuk dijadikan proyek properti.

Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah ketersediaan pembeli. Karena sebagus apapun proyek yang akan dikembangkan akan percuma jika tidak terdapat market.

Dari sisi fisik tanah, ada banyak kondisi yang musti menjadi perhatian diantaranya lokasi tersebut memiliki akses yang bagus, tidak banjir, terdapat jaringan listrik dan bebas sengketa.

Ketersediaan market

Untuk mengetahui ketersediaan market maka perlu dilakukan kajian, akan lebih bagus lagi dibuat studi kelayakan proyek (feasibility study) sehingga rencana pengembangan proyek berdasarkan analisis data.

Karena di dalam FS tersebut terdapat semua analisa mulai dari analisa ekonomi, analisa finansial, analisa hukum, analisa tentang lingkungan hidup dan analisa lainnya.

Perhatikan jalan akses ke proyek

Sementara jalan akses yang bagus amat menentukan ketertarikan calon konsumen. Bayangkan saja jika sebuah proyek sangat bagus dari sisi mutu bangunan dan desainnya.

Tetapi jalan akses ke lokasi perumahan tersebut tidak bagus, jalannya kecil, maka calon pembeli akan berfikir ulang untuk membeli rumah di lokasi tersebut.

Wajib hukumnya lokasi bebas banjir

Demikian juga tentang banjir. Proyek yang akan Anda bangun harus bebas banjir, karena jika lokasi tersebut dikenal sebagai lokasi banjir maka amat sulit menjualnya.

Karena tidak ada orang yang mau tinggal di lokasi perumahan yang terendam banjir. Ngga kebayang repotnya deh!

Terdapat jaringan listrik

Demikian juga berhubungan dengan kebutuhan utilitas dari proyek seperti jaringan listrik. Proyek yang akan Anda bangun sebaiknya berada di lokasi yang sudah terdapat jaringan listrik.

Karena jika tidak maka terdapat cost tambahan untuk membangun jaringan listrik. Sudah pasti bisa memang, tetapi melakukan sambungan listrik butuh effort tersendiri yang terkadang amat melelahkan dan menguras rekening.

Bebas sengketa

Faktor lainnya yang musti diperhatikan ketika mengakuisisi lahan adalah lahan tersebut terbebas dari sengketa.

Ini wajib banget diperhatikan, tidak ada toleransi tentang ini. Jika tanahnya sengketa tinggalkan saja, cari tanah lain.

Karena sengketa itu akan menguras waktu, energi dan biaya. Waktu penyelesaian dalam sengketa tanah ini bisa lama sekali, bahkan ada sengketa tanah sepanjang masa. Sudah puluhan tahun masih belum selesai-selesai juga.

Hal ini bisa terjadi karena Indonesia memakai pengadilan berjenjang. Mulai dari pengadilan negeri atau pengadilan tingkat pertama, pengadilan tinggi, sampai dengan dua tahap upaya hukum di tingkat Mahkamah Agung, yaitu kasasi dan Penjinjauan Kembali (PK).

Di samping pengadilan berjenjang, sebuah perkara tanah bisa saja dituntut secara pidana, perdata bahkan dari Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Terbayang rumitnya tho?

Anda bisa membeli lahan secara tunai

untung membeli lahan secara tunai

Jika anda memiliki uang untuk menjadi developer properti maka langkah anda lebih mudah karena anda tinggal beli tanah kemudian urus perijinan, buat perencanaan, bangun fisik proyek dan pasarkan.

Semua itu bisa anda lakukan sendiri, namun bisa juga anda serahkan kepada orang lain. Ya, serahkan sesuatu kepada ahlinya.

Itulah developer properti, lebih banyak mengandalkan kekuatan outsource dalam pelaksanaannya.

Anda tidak membutuhkan keahlian teknis untuk sukses sebagai developer properti. Anda tidak dituntut harus pintar ngaduk semen, memasang bata atau menggali dan memasang batu kali di pondasi.

Semua itu sudah ada ahlinya, anda hanya dituntut untuk mampu mengelola sumber daya orang lain.

Bisa tawarkan pembayaran bertahap jika Anda tidak punya uang

Namun jika anda tidak memiliki uang untuk membeli lahan maka Anda jangan berkecil hati karena ada banyak strategi yang bisa anda praktekkan untuk mengakuisisi lahan.

Diantaranya menawarkan pembayaran bertahap kepada pemilik lahan.

Dengan pola pembayaran ini, tanah tidak dibayar sekaligus di depan. Pembayaran di depan hanya berupa uang tanda jadi atau uang muka yang besarnya sesuai kesepakatan anda dengan pemilik lahan.

Sedapat mungkin sesuaikan dengan kemampuan Anda dalam menyediakan uang tunai sehingga Anda tidak membutuhkan bantuan uang muka dari pihak lain.

Dengan demikian Anda tidak terbebani untuk membayar hutang sehingga Anda bisa fokus melaksanakan proyek.

Setelah pembayaran uang muka, selanjutnya kewajiban Anda adalah membayar harga tanah sesuai dengan tahapan yang disepakati.

Biasanya tahapan pembayaran yang disepakati adalah pembayaran per-3 bulan sampai lunas. Tapi ini tidak mengikat, bisa juga pembayaran per-6 atau per-9 bulan. 

Kerjasama lahan juga bisa menjadi alternatif

Selain pembayaran secara bertahap, strategi akuisisi lahan yang bisa anda praktekkan adalah menawarkan kerjasama lahan kepada pemilik lahan.

Pada prinsipnya kerjasama lahan sama dengan pembayaran bertahap. Hanya saja pada kerjasama lahan ini pemilik lahan juga berhak mendapatkan laba proyek. 

Jadi pemilik tanah mendapatkan harga tanahnya dan keuntungan proyek. Harga tanah dibayarkan secara bertahap sesuai dengan kesepakatan.

Pada umumnya pola pembayaran yang disepakati adalah pembayaran bertahap sesuai dengan unit terjual.

Sedangkan keuntungan proyek dibayarkan pada saat proyek sudah selesai, sehingga keuntungan proyek sudah dihitung dan disepakati.

Pembagian keuntungan proyek bersamaan dengan pembagian keuntungan proyek yang menjadi hak developer.

Contoh Kerjasama Lahan dengan Sistem Bagi Unit untuk Membangun Ruko

Selain untuk membangun perumahan, kerjasama lahan dengan sistem bagi unit bisa dipraktekkan untuk membangun ruko.

Prinsipnya sama dengan pembangunan perumahan, yaitu pemilik lahan menyediakan lahan sementara anda sebagai developer yang mengurus perijinan, membangun dan memasarkannya.

Dengan kerjasama seperti ini bagi hasilnya adalah berupa pembagian unit ruko. Beberapa unit untuk pemilik lahan dan beberapa unit untuk anda sebagai developer.

Dalam pelaksanaannya bisa jadi bagian untuk pemilik lahan dijualkan bersama, demikian juga bagian anda juga bisa anda jual. Jadi pemilik lahan menerima harga penjualan sebesar penjualan ruko miliknya demikian juga anda.

Strategi menghitung bagian pemilik tanah

Caranya mudah sekali, bagiannya dihitung berdasarkan harga tanahnya. Jika harga total tanahnya adalah 6 milyar rupiah, maka bagian pemilik lahan adalah 3 unit ruko jika harga 1 unit ruko adalah 2 milyar.

Tetapi tidak tertutup kemungkinan anda menawarkan jumlah unit ruko yang lebih banyak supaya pemilik tanah tertarik untuk bekerjasama.

Dapatkan investor untuk membiayai bisnis properti Anda

mencari investor propertiInilah langkah penting jika Anda ingin menjadi developer properti dalam keadaan tidak punya uang. Anda harus memiliki seorang investor.

Pentingnya investor ini karena ialah yang akan membiayai seluruh proyek Anda, tentu saja dengan adanya bagi hasil dengan mereka.

Karena walaupun tanah tidak dibeli secara tunai atau kerjasama lahan dengan pemilik lahan ketika akan memulai sebuah proyek tetap membutuhkan modal awal.

Modal tersebut diantaranya adalah untuk mengurus perizinan dan legalitas, mengerjakan persiapan lahan, kebutuhan overhead dan pekerjaan lainnya.

Biaya untuk mengurus perizinan

Perizinan yang wajin diurus adalah Izin Mendirikan Bangunan (IMB)/Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). IMB/PBG ini merupakan produk akhir sebuah perizinan.

Perjalanan untuk mendapatkan PBG ini amat panjang dan melelahkan selain membutuhkan uang yang tidak sedikit. Tak dipungkiri pengurusan perizinan proyek di Indonesia tercinta ini masih terpenjara oleh biaya-biaya gelap.

Sebelum PBG diperoleh amat banyak perizinan awal atau rekomendasi dari dinas-dinas teknis yang musti diurus terlebih dahulu.

Rekomendasi-rekomendasi tersebut berupa rekomendasi peil banjir, rekomendasi lahan tidak termasuk Lahan Sawah Dilindungi (LSD), rekomendasi tanah tidak termasuk Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

Rekomendasi dari dinas lingkungan hidup

Selanjutnya rekomendasi yang perlu diurus lagi adalah rekomendasi dari Dinas Lingkungan Hidup seperti Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Amdal), Usaha Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Usaha Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) dan Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan Lingkungan Hidup (SPPL).

Termasuk Dinas Lingkungan Hidup akan mengeluarkan rekomendasi tentang Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS) dan pertimbangan baku mutu air limbah.

Biaya untuk mengurus rekomendasi-rekomendasi lainnya

Ada rekomendasi pemadam kebakaran dari dinas pemadam kebakaran, rekomendasi tanah makam untuk Tempat Pemakaman Umum (TPU), Rekomendasi Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin), rekomendasi tentang Penerangan Jalan Umum (PJU).

Selain itu rekomendasi awal yang musti dipenuhi oleh seorang pengembang adalah rekomendasi dari warga setempat yang menyatakan bahwa mereka tidak keberatan tentang pembangunan proyek di wilayah mereka.

Termasuk rekomendasi dari kepala desa dan camat, rekomendasinya juga menyatakan bahwa kepala desa dan camat tidak keberatan tentang pembangunan proyek di wilayah mereka.

Itulah rekomendasi-rekomendasi yang menyertai pembangunan sebuah proyek properti. Dan setiap rekomendasi tersebut membutuhkan biaya. Inilah pentingnya Anda memiliki modal awal untuk memulai proyek, baik dari kantong sendiri maupun dari investor.

Biaya untuk perizinan ini harus ada di awal-awal proyek karena tanpa perizinan proyek tidak bisa berjalan. Itulah gunanya Anda menyediakan modal awal proyek (initial cost), baik dari kantong sendiri maupun dari investor.

Biaya untuk persiapan lahan

Sejalan dengan pengurusan perizinan sebaiknya seorang pengembang juga mengerjakan persiapan lahan. Persiapan lahan di sini bertujuan agar lahan tampak rapi dan siap untuk dibangun.

Hal ini penting untuk menyampaikan kepada calon konsumen bahwa developer amat siap untuk membangun proyek.

Akan berbeda keyakinan seorang calon pembeli melihat kondisi proyek yang rapih dan kondisi proyek yang apa adanya. Ya, pengaruhnya terhadap penjualan proyek.

Biaya persiapan lahan ini relatif tergantung kondisi fisik proyek. Jika lahan sudah cenderung datar, bersih dan elevasi sudah aman dari banjir, maka biaya untuk persiapan proyek tidak terlalu besar.

Tetapi jika kondisi lahan butuh pekerjaan berat seperti pengurukan, cut and fill dengan alat berat, maka biaya untuk persiapan lahan cukup besar.

Musti diperhitungkan benar-benar karena akan berkaitan dengan kelayakan proyek.

Kemampuan manejerialmu amat dibutuhkan

Selanjutnya yang harus mendapat perhatian adalah tentang manajemen proyek, dimana pada tahapan ini sangat diperlukan kemampuan manejerial dari seorang developer.

Karena dialah yang mengatur seluruh aktivitas dan organ-organ yang berhubungan dengan proyek, mengendalikan perjalanan proyek sehingga bisa mencapai hasil yang diinginkan.

Tahap pelaksanaan proyek

Setelah semua tertata dengan baik, lahan sudah diakuisisi, perijinan sudah diinisiasi, manajemen sudah dipersiapkan, tibalah saatnya Anda melaksanakan proyek mulai dari perencanaan, pengerjaan persiapan lahan, pembangunan fisik proyek dan pemasaran.

Nah, itulah tahapan yang harus dilalui oleh seorang developer properti ketika akan mengembangkan proyek, cukup banyak memang dan memerlukan keahlian, kejelian dan ketelitian.

Namun keahlian, kejelian dan ketelitian tersebut bisa didapat dari belajar. 

Belajar menjadi pengembang dengan mengikuti workshop developer properti

Belajar tentang memulai sebuah proyek properti bisa dengan membaca di buku-buku atau dengan mengikuti Workshop Properti.

Jika Anda ikut workshop keuntungannya adalah Anda langsung akan dibimbing oleh si pelaku bisnis properti tersebut. Karena si pemateri umumnya adalah orang yang telah makan asam garam bisnis ini.

Setelah mendapatkan lahan yang cocok langkah selanjutnya adalah perencanaan lahan. Perencanaan lahan bisa Anda lakukan sendiri jika memang Anda sanggup melakukannya, tidak hanya sekedar sanggup Anda harus ahli dalam disain.

Jika Anda tidak ahli di bidang ini sebaiknya serahkan kepada ahlinya. Ada banyak sekali ahli yang siap membantu Anda tentu saja dengan sejumlah uang jasa.

Setelah perencanaan komplit tiba saatnya Anda mengerjakan proyek. Untuk mengerjakan proyek bisa Anda kerjakan sendiri atau menyerahkan kepada orang lain yang bernama kontraktor.

Anda bisa memilih mendelegasikan pekerjaan secara partial atau secara all in, tapi sesuai pengalaman lebih baik kontrak partial karena akan lebih simpel dalam controlling.

Terakhir, penggalan kerja yang harus direcanakan secara matang adalah tentang marketing atau penjualan produk perumahan. Berikan perhatian lebih tentang marketing ini dan bisnis developer properti Anda akan sukses.

Bank BTN Kembali Salurkan Kredit Perumahan Subsidi BP2BT untuk 11.000 Unit Rumah

Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sepakat menunjuk Bank Tabgungan Negara (BTN) sebagai bank penyalur kredit perumahan subsidi dengan skema KPR BP2BT atau Kredit Pemilikan Rumah Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan, dengan ditandatanganinya Perjanjian Kerja Sama tentang Penyaluran BP2BT Tahun 2021 di Jakarta, pada tanggal 28 Januari 2021.

Bank BTN kembali dipercaya Kementerian PUPR untuk menyalurkan 11.000 unit hunian menggunakan skema BP2BT tersebut.

Apa yang dimakud dengan skema subsidi KPR BP2BT? KPR BP2BT adalah program bantuan pemerintah yang diberikan kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang telah mempunyai tabungan dalam rangka pemenuhan sebagian uang muka perolehan Rumah atau sebagian dana untuk pembangunan Rumah swadaya melalui kredit atau pembiayaan bank pelaksana.

Skema subsidi BP2BT ini melengkapi skema subsidi lainnya, yaitu FLPP atau Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan dan SSB atau Subsidi Selisih Bunga. (more…)

Ini Tugas Bagian Kontstruksi Di Sebuah Proyek Properti

Tugas bagian konstruksi di sebuah proyek properi seperti perumahan adalah melakukan pembangunan fisik. Termasuk didalamnya memastikan bahwa material yang akan digunakan di proyek tersebut dapat diperoleh sesuai kebutuhan.

Secara ringkas ini beberapa tugas dari bagian konstruksi:

Survei lapangan dan memastikan ketersediaan material

Survey lapangan perlu dilakukan sebelum proyek dilaksanakan. Dari hasil survey lapangan didapat data-data faktual tentang proyek. Baik kelebihan dan kekurangannya dijabarkan dalam sebuah laporan.

Termasuk dalam laporan tersebut mancantumkan survey tentang material. Informasi tentang ketersediaan material ini amat penting dalam pelaksanaan sebuah proyek properti.

Jika proyek berada di tempat yang sudah ramai, biasanya ketersediaan material tidak masalah. Namun apabila akan mengembangkan proyek di lokasi yang masih sepi dan terpencil maka ketersediaan material ini wajib menjadi perhatian. Ini berkaitan dengan cost atau biaya dalam pembangunan proyek.

Pematangan lahan; cut and fill, pengurukan, dan lainnya

Tugas lainnya bagian konstruksi di sebuah proyek properti adalah melakukan pematangan lahan sehingga lahan siap untuk dibangun, sekurangnya lahan menjadi lebih rapi dan enak dipandang oleh calon pembeli.

Salah satu kegiatan pematangan lahan ini adalah cut and fill untuk meratakan lokasi proyek. Caranya adalah dengan mengambil lokasi yang lebih tinggi untuk diisi ke lokasi yang lebih rendah. (more…)

Strategi Bisnis Properti Tanpa KPR Inden

cashback-kpr

Bank Indonesia akan memperketat peraturan KPR Inden. Dimana rumah jadi dulu baru bisa di-KPR-kan.

Apakah ini mempersulit atau menguntungkan? Mari kita tidak terjebak di ranah sulit atau mudah.

Tapi bagaimana caranya untuk tetap bisa membangun meski keran KPR Inden ditutup.

Membeli rumah dengan fasilitas KPR, ada uang muka karena KPR hanya membiayai 70-80% dari harga.

Maka Uang Muka konsumen ini sebenarnya cukup untuk membangun. Biaya bangunan kurang lebih 40% dari harga.

Sehingga 20% uang muka digunakan untuk membiayai konstruksi sampai 100% dan pelunasan menggunakan pencairan KPR. (more…)

BP Tapera: ASN Semakin Mudah Memiliki Rumah

bp tera adalahBadan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) menggandeng Bank BTN dan Perum Perumnas dalam memenuhi mimpi pemerintah untuk menyediakan rumah yang layak bagi seluruh warga negara Indonesia.

Dimana Bank BTN telah mempersiapkan produk KPR Tapera yang dapat mempermudah peserta Tapera untuk memiliki rumah.

Dan Perum Perumnas menyatakan siap mendukung Proyek Inisiasi Penyaluran Pembiayaan Tabungan Perumahan Rakyat. Karena memang Perumnas sudah amat berpengalaman dalam menyediakan perumahan bagi masyarakat.

Jejaknya sudah amat panjang dalam menyediakan perumahan untuk masyarakat, sudah sejak 1974 atau 47 tahun yang lalu.

Untuk tahap pertama akan ada 11.000 unit rumah yang akan dibiayai melalui KPR Tapera dimana target pemenuhan kebutuhan perumahan adalah peserta Tapera dari ASN. Turut pula dalam kerjasama ini adalah Perum Perumnas sebagai sebuah perusahaan milik negara yang bergerak di bidang pembangunan perumahan bagi ASN.

Melalui kemitraan antara BP Tapera, Bank BTN dan Perum Perumnas tersebut, masyarakat Indonesia bisa memiliki rumah dengan berbagai manfaat dan kemudahan dari fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Tapera melalui Proyek Inisiasi Penyaluran Pembiayaan Tabungan Perumahan Rakyat.

Diharapkan proyek inisiasi ini menjadi pioneer sekaligus batu lompatan untuk mencapai target pemenuhan kebutuhan rumah rakyat Indonesia.

KPR Tapera menawarkan tiga skema pembiayaan sesuai kelompok penghasilan. Untuk kelompok Penghasilan I dengan penghasilan di bawah Rp4 juta akan mendapatkan suku bunga KPR sebesar 5% fixed rate dengan tenor sampai dengan 30 tahun.

Pada kelompok penghasilan II dengan penghasilan berkisar Rp4 juta-Rp6 juta dikenakan bunga KPR 6% fixed rate dengan tenor sampai dengan 20 tahun.

Kemudian, untuk kelompok penghasilan III dengan penghasilan Rp6 juta-Rp8 juta dapat mengakses KPR dengan bunga 7% fixed rate dengan tenor sampai dengan 20 tahun.

Berbeda dengan skema KPR subsidi FLPP yang menetapkan hanya satu batasan penghasilan yaitu paling tinggi 8 juta rupiah.

Dari sisi asal uangnya juga berbeda, KPR FLPP uangnya berasal dari APBN yang dikreditkan ke masyarakat melalui bank penyalur, lalu uang ini dikembalikan ke negara dalam bentuk cicilan perbulan. Cicilan dari konsumen kredit KPR FLPP ini akan menjadi dana bergulir yang nantinya juga akan dipergunakan lagi untuk dikreditkan lagi ke masyarakat dengan skema FLPP selanjutnya.

Perbedaan selanjutnya adalah bunga kredit. Dengan KPR Tapera, bunga kredit tergantung kepada kelompok penghasilan sedangkan dengan KPR FLPP bunga kredit tetap yaitu 5% selama masa kredit sampai 20 tahun.

Apa syaratnya agar masyarakat bisa mendapatkan KPR Tapera?

Syaratnya adalah masyarakat yang termasuk golongan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), belum memiliki rumah dan menjadi peserta Tapera aktif dan lancar membayar simpanan peserta selama 12 bulan.

Ini berbeda dengan KPR FLPP yang syaratnya yang penting memiliki penghasilan paling besar 8 juta/bulan dan memenuhi syarat untuk mendapatkan KPR FLPP seperti belum punya rumah, belum pernah mendapatkan kredit subsidi perumahan sebelumnya, rumahnya benar untuk ditempati dan syarat lainnya.

Kemudian harga rumah yang dapat dimiliki peserta aktif Tapera beragam mulai dari Rp112 juta hingga Rp292 juta.

Ini juga ada perbedaan dengan KPR FLPP yang harga rumah sudah ditetapkan oleh pemerintah seperti di Pulau Jawa dan Sumatera batasan harganya adalah 150,5 juta, harga untuk Jabodetabek adalah 168 juta sama dengan Maluku, Maluku Utara, Bali dan Nusa Tenggara.

Untuk Kalimantan dan Sulawesi adalah masing-masing 164,5 juta dan 156,5 juta. Harga yang paling tinggi adalah di Papua dan Papua Barat yaitu 219 juta.

Mencermati Dampak Kuota FLPP Yang Terbatas

Sebagaimana kita ketahui pemerintah telah mengalokasi kuota subsidi perumahan dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk kurang lebih 105 ribu unit rumah di tahun 2020.

Kuota penyaluran melalui lebih dari 30 bank juga telah ditandatangani, dimana bank BTN penerima kuota terbanyak sekitar 50 persen nya. Sedangkan 50 persen sisanya tersebar di 30 bank lainnya.

Kuota menjadi sangat terbatas jika dibandingkan dengan rumah subsidi yang sudah dan sedang dibangun developer. Menurut informasi, Surat Penegasan Persetujuan Pemberian Kredit (SP3K) atau surat persetujuan KPR ke calon konsumen yang sudah terbit mencapai 300.000 unit. Melihat informasi ini, backlog antara kekurangan dana FLPP akan terulang di tahun 2020.

Dampak yang kemungkinan akan terjadi adalah akan banyak proyek rumah subsidi yang tidak bisa akad dengan skema FLPP. Turunan dari kemungkinan potensi tidak bisa akad juga berdampak pada potensi rendahnya atau bahkan tidak ada penyaluran Kredit Pemilikan Lahan (KPL) dan Kredit Yasa Griya (KYG) atau kredit kontruksi produk BTN.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena cicilan pokok KPL dan KYG berasal dari hasil penjualan rumah skema FLPP. Jika FLPP tidak bisa akad karena kuota habis, sudah pasti potensi KPL dan KYG akan macet atau gagal bayar.

Namun demikian karena ini masih asumsi, kita tetap berharap pemerintah akan menambah anggaran FLPP jika kuota habis. (more…)

Mengapa Sulit Mencari Investor?

Bagaimana mencari investor properti

Dalam sebuah dialog dengan anggota, anggota mengeluh sangat sulit dalam hal mencari investor untuk mendukung rencana proyeknya. Beberapa kali dia mengajak investor, hampir semuanya gagal.

Padahal kebutuhan tambahan modal yang diharapkan tidak terlalu besar, hanya berkisar 1 sd 2 milyar. Kebutuhan dana dari investor untuk pelunasan pembayaran lahan. Dia sendiri memiliki modal tunai pribadi kurang lebih 1 milyar.

Saya mencoba menelisik lebih lanjut dengan melihat proposalnya dalam rangka mencari investor. Saya sedikit terkejut, proposal yang dibuat sangat sederhana.

Hanya berisi kesimpulan pokok, seperti harga tanah, jumlah kavling, Hpp produksi, harga jual dan potensi laba. Tidak ada rincian detail asal usul dari angka angka yang disajikan.

Tidak ada pra siteplan sebagai sumber penyusunan RAB. Juga tidak ada penjelasan mengenai lokasi, prospek pasar, harga pasaran, competitor dll.

Atas proposal ini, saya berkomentar bahwa proposalnya terlalu sederhana, tidak ada daya tarik sama sekali buat investor. Dia mengakui proposal detail belum dibuat, alasannya masih berfokus mencari lahan dan mencari kekurangan anggaran ke investor untuk pembelian lahan.

Menurut dia, proposal detail baru akan disusun jika ada kepastian calon investor yang akan mendukung rencananya. Khususnya untuk pelunasan lahan.

Saya katakan, bahwa yang dicari itu bukan investor, tapi mitra. Kalau investor, kecil sekali ada yang bersedia. Apa bedanya, bukankan investor juga disebut mitra? Investor memang juga disebut mitra, semua investor pasti mitra, namum mitra belum tentu investor. Sales, tukang, konsultan arsitek adalah contoh mitra, tapi bukan investor.

Terminologi investor adalah penyandang modal. Orang berduit yang percaya ke kita, pemilik tanah yang bersedia dibayar tempo atau kerjasama, pemborong yang punya uang untuk kerja dahulu adalah contoh investor. Termasuk bank yang memberikan pinjaman ke kita juga disebut investor.

Ketika kita mengajukan pendanaan ke investor, apapun bentuk lembaganya, tidak bisa tanpa proposal yang spesifik yang meyakinkan investor itu.

Dari sisi perencanaan, investor harus diyakinkan bahwa rencana kerja telah disusun dengan baik, dari sisi manajemen, investor juga harus yakin, bahwa kita yang akan menjalankan proyek adalah mampu dan bisa.

Dari sisi keuangan, investor harus diyakinkan dengan data dan perhitungan-perhitungan yang detail dan meyakinkan. Termasuk mitigasi resiko terhadap kegagalan proyek. Investor harus diyakinkan bahwa bisnisnya minim resiko. Termasuk jalan keluar jika resiko terburuk yang akan terjadi.

Untuk menyusun proposal detail, mau tidak mau, kita harus menyiapkan modal sendiri. Membayar jasa gambar arsitek, gambar kerja teknis, pra siteplan, design materi promosi harus dari kita.

Demikian juga dalam menyusun RAB, rencana arus kas, semua harus kita yang menyiapkan. Tidak mungkin kita minta dana ke investor untuk menyusun proposal yang akan diajukan ke si investor itu.

Dalam posisi kita sebagai developer khususnya yang masih pemula, proposal yang kita ajukan ke calon investor kita, bisa jadi mirip seperti proposal ke bank.

Sangat detail dan nyaris sempurna. Ketika investor bertanya jadi berapa unit kavling, tidak bisa kita jawab kira-kira. Ketika kita jawab jumlah kavling ada 100 unit, kita harus menunjukan gambar pra siteplan yang menjawab ketemunya jumlah kavling tersebut.

Ketika investor bertanya berapa potensi laba, kita harus bisa menunjukan hitungan RAB detail yang menjawab asal usul hitungan labanya.

Jika kita belum bisa menyajikan proposal detail, barangkali bukan investor yang kita cari, tapi mitra kerja. Mitra kerja untuk survey, untuk susun perencanaan, untuk bisa merancang semuanya.

Mitra kerja bisa bukan investor, bisa juga investor itu sendiri. Khusus mitra kerja yang juga sebagai investor, carilah mitra kerja investor yang memiliki kepeminatan pada bisnis property. Bukan sekedar investor yang semata-mata pemilik uang.

Terus belajar dan tetap semangat
MANDOR TOMO
WAKETUM DEPRINDO